Sabtu, 17 Maret 2018

Sekilas Tentang Bertahan


Oleh        : Nin Wahyuni
Image result for gambar orang yang bertahan
google.com

Kau uji aku sekilas aku rasa tak kuasa
Namun kusadari dan aku mengerti
Kuserahkan padamu
Takkan aku bertanya mengapa harus terjadi
Karena aku yakini tak ada beban tanpa pundak
Kau uji aku karena kubisa melewatinya
Ini yang terbaik bagi hidupku
Semua hanya ujian
(Beban tanpa Pundak__Lyric Edcoustic)

Ujian seharusnya menjadi sumber kekuatan dan perbaikan. Bukti kasih sayang-Nya dengan menguji keimanan kita kala diterpa badai masalah. Bukankah semakin besar pohon, semakin kuat pula angin berhembus? Allah ingin menempatkan pada posisi lebih tinggi dari yang lain. Memang sakit—ingin lari—pergi—dan menghilang.
Sekilas tentang bertahan. Aku sedang berkali-kali meluruskan niat untuk bertahan. Aku tahu, ini takkan mudah. Menjalani pekerjaan dengan hati yang tidak nyaman. Orang sepertiku yang susah sekali move on membuatku terperangkap dalam labirin waktu.
Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Sangat mulia memang. Impian orang tuaku terpikul di pundak. Impianku sejak kecil pula—menjadi seorang guru. Ternyata tidak semudah dugaanku. Menjadi guru zaman sekarang banyak pahitnya. Jika boleh memilih, aku ingin berhenti menjadi pengajar di sekolah. Aku orang yang tidak suka dengan aturan yang mengekang. Aku tipe orang yang bebas. Asyik dengan dunia sendiri. Lebih suka bermain aksara. Suka dengan dunia literasi. Diskusi tentang dunia kepenulisan. Atau asyik bermain dengan anak-anak kecil. Menciptakan rumah baca untuk anak-anak mungkin.
Bukan aku tidak bersyukur dengan keadaanku saat ini. Belum lulus kuliah sudah disalurkan kerja. Bisa membiayai biaya bimbingan skripsi sampai keperluan wisuda dari kerja kerasku ini. Tapi, hati selalu berontak dengan ketidaknyamanan dan ketidakadilan. Tetap saja, aku tertahan untuk tak pergi.
Tawaran dari pak Syahrul misalnya. Beliau menawariku untuk mengajar di SMP UA. Jika saja move on itu mudah, egois itu mudah, mungkin lebih baik aku meninggalkan tempatku saat ini. Berpindah di tempat kerja yang lebih baik.
“Kamu jangan pindah. Nanti aku gak punya teman,” kata Ucup teman sekelas, teman se-PPL yang bekerja di tempatku sekarang mengajar. Dia salah satu yang menjadi penahanku untuk tetap tinggal. Aku tahu dia lebih tertekan dariku. Seperti boneka yang diperintah kemudian disalahkan.
“Inget, kalau kamu pindah nanti SKmu harus ngulang dari awal. Kita bakal lama sertifikasinya,” dia masih berusaha meyakinkanku. Aku sebenernya masa bodoh dengan itu semua. Aku tak pernah terbesit mengejar kenaikan pangkat atau mengejar apapun. Semua kubiarkan mengalir. Chatnya selalu panjang hanya untuk meyakinkan dan menguatkanku. Bahkan, dia yang mengurus data-data emisku supaya terdaftar di Kemenag sebagai guru PAI. Dia yang mengurus akun onlineku. Sedangkan aku? Aku pasi.
“Kalau kamu mau pindah gakpapa. Tapi yang ada lowongannya 2, ya,” candanya. Kadang pengen ketawa sama tingkahnya. Dia berasa anak kecil banget tapi akhir Maret besok nikah.wkwkwk. Umurnya lebih muda satu tahun dariku. Dia teman seperjuanganku dari kuliah, menjadi  koordinasi PPL III , sampai menjadi ketua sekretaris di PPL IV. Wajar kalau kami menghebohkan sekolah karena dikira pasangan sejoli. Siswa dan guru-guru sudah sering memperbincangkan kami. Siswa yang iseng memanggilku umi dan Ucup dipanggil abi. Guyon yang bikin aku geli.
***
Seumur hidupku, baru disini dipermalukan di depan umum. Harga diri dijatuhkan sejatuh-jatuhnya didepan semua guru. Kesalahan yang seharusnya kecil, bisa tabayun, tidak perlu diumumkan. Semua membekas dalam. Hanya karena tertukar memasukkan absen siswa menjadi viral?
“Saya trauma sama guru baru” “Guru agama kok gak amanah” itu didepan siswa. Aku tahu itu bukan aku. Tapi ikut merasakan sakit hati. Kami sering jadi boneka sekolah, belum berpengalaman, tapi menjadi sasaran kesalahan. Bukankah seharusnya dibimbing?
Jujur lelah. Belum ketika di kelas. Seperti mengajar di tengah pasar. Orang-orangnya patung tak berisi. Diisi selalu tumpah. Atau suara kasar anak-anak yang kembali pada jaman jahiliyah? Anak-anak yang mulai mengalami degradasi moral. Anak-anak yang semakin tipis rasa hormatnya. Anak-anak yang kasar nada bicaranya? Berkali-kali aku harus menghela napas dalam-dalam. Sekedar menenangkan diri dan menguatkan batin. Sepengalaman mengajarku, aku tidak pernah membentak atau menggebrak meja. Tidak pernah juga galak. Tapi disini, aku menjadi orang lain. Lelah. Sering sakit memikirkan mereka.
Sekali lagi, Allah selau punya rencana indah mengapa aku tetap disini. Belajar memahami karakter mereka. Mempelajari latar belakang mereka. Latar belakang keluarga menjadi faktor dominan sikap brutal mereka. Beberapa membuatku haru. Ternyata sekolah tempatku mengajar semacam tempat rehabilitasi anak-anak bermasalah dan butuh kasih sayang. Sebagai wali kelas, aku harus tahu dengan latar belakang mereka. Ada yang broken home karena orang tuanya cerai, ada yang sudah tidak punya orang tua, ada yang tinggal bersama kakek neneknya. Belum lagi ada anak yang memang dari rumah sudah dibiarkan orang tuanya. Intinya banyak anak yang kurang kasih sayang. Bahkan beberapa orang tua selalu menghubungiku untuk curhat. Bertanya mengapa kok anaknya susah sholat, susah disuruh cium tangan kalau mau sekolah, dll. Jika orang tua sudah menyerah, lalu adilkah didikan anak sepenuhnya diserahkan pada kami? Kami diibaratkan dokter yang punya bermacam obat penyembuh. Didikan anak bukannya berasal dari rumah? Seorang ibu adalah madrasah utama bagi anaknya. Bahkan aku pernah membaca buku yang mengatakan wanita adalah tiang sebuah negara. Wanita adalah garda terdepan terciptanya peradaban. Baik buruknya peradaban ditentukan seorang wanita yang bertugas sebagai madrasah al-ula.
Atau… kurang apa kami sebagai guru? setiap hari harus kucing-kucingan mencari anak-anak yang kabur ke kantin. Alasan orang tua belum masak. Alasan orang tua sibuk. Lalu, kami harus bagaimana? Kami sudah berusaha memberinya obat penawar agar mereka bisa berubah. Berperilaku yang baik dan beradab. Tapi, justru kami yang selalu butuh obat penenang. Menenangkan pikiran kami yang selalu terserang lelah.
Pernah sekali memanggil beberapa orang tua yang anaknya bolos. Tepatnya pasca demo kepala sekolah. Keadaan kelasku mungkin tidak separah keadaan kelas lainnya yang lebih dari separuh bolos. Tetap saja kelasku adalah tanggung jawabku. Ternyata himbauan dan ancamanku before demo tidak dihiraukan. Bolak-balik aku harus ngecek absen kelas seperti orang bingung. Mencari dikerumunan orang yang berdemo. Sedih rasanya melihat anak-anak kelasku berdemo sedangkan mereka tidak tahu duduk masalahnya. Pernah tangan ini menjewer anak perempuan yang terkenal pembuat onar. Semalaman gak bisa tidur karena rasa bersalah dan takut. Semua rasa-rasa gak nentu itu yang sering membuatku tumbang. Sakit.
Jika anak memiliki HAM, apakah guru juga dilindungi HAM? Kami selalu merasa terancam. Keselamatan kami menjadi taruhan karena beberapa anak berusaha mencelakai kami.
***
Terlepas dari semua kelelahan yang kualami, disini, aku belajar arti kesabaran. Kuat mental. Berlatih menjadi leader. Belajar terus memperbaiki diri agar bisa mengajarkan kebaikan untuk mereka. Allah tak pernah menempatkan hamba-Nya disuatu tempat tanpa hikmah, bukan? Mungkin disini ladang dakwahku yang harus selalu kusyukuri. Ya, walaupun masih dengan berat hati. Semoga lelah ini berbuah kenikmatan luar biasa di hari perhitungan amal kelak.
Kau uji aku karena kubisa melewatinya
Ini yang terbaik bagi hidupku
Semua hanya ujian
***
Bantu, 18 Maret 2018~Coretan Memanggil Kantuk~pukul 2.24 Am


Untukmu yang Hampir Purna



Oleh : Nin Wahyuni
Image result for gambar hati yang sedang patah

Untukmu yang hampir purna, ini bukan sarkasme atau sindiran, tapi kuanggap sebagai teguran diri. Apapun yang menjadi kebersamaan antara kita, aku ingin berterimakasih untuk segala kesempatan yang pernah terluangkan untuk kisah lalu. Terimakasih untuk “patah hati” yang membuatku benar-benar jatuh, kemudian mampu menata hati menuju pendar Ilahi.
Dulu, janji membangun mahligai diatas janji suci begitu indah. Kini sudah hambar dan terbang terbawa pawana.
Dulu, kau kuatkan aku ketika berkali-kali tak bisa samakan prinsip.
Kini, kau yang pergi ketika aku belajar memahamimu.
Kamu yang ternyata tak bisa mencintaiku, sehingga lelah memperjuangkan kebersamaan.
Untukmu yang hampir purna, pelan-pelan aku melepaskanmu.
Berhenti peduli, berhenti mencari tahu tentangmu, berhenti meninggalkan jejak di status-statusmu. Aku memilih hening. Sehening doa-doaku diujung malam penuh ketenangan.  
Pun seperti yang kau bilang, tidak menemukanku dalam “Istikharahmu”, aku belajar menerima garis takdir-Nya. Segala penerimaan yang meninggalkan jejak paling dalam di relung hati.
Jiwaku patah. Jiwaku hampa. Aku protes dengan ketidakadilan Tuhan padaku. Sempat terfikir melawan takdir-Nya dengan mendoamu di waktu-waktu mustajab.
Aku menyerah. Aku lelah. Aku takkan bisa melawan kekuatan Sang Maha Dahsyat.
Allah lebih tahu perihal diriku.
Sekali lagi, aku berterimakasih padamu yang hampir purna. Aku sudah benar-benar menghentikan langkah memperjuangkanmu dalam doa-doaku.
“Patah Hati” yang kau beri telah memberi banyak arti dalam hidupku.
Aku belajar arti kehilangan untuk bersiap menyambut berlipat hadiah dari kesabaranku.
Allah tak pernah tidur. Dia semakin menunjukkan dirimu yang tidak selaras denganku.
Untukmu yang hampir purna, aku tak lagi menahanmu untuk semakin pergi, karena akupun tak peduli lagi dengan hadir maupun pergimu.
Allah, “Jangan larutkan aku dalam pilihan yang salah”.

Bantul, 17 Maret 2018~Renungan dalam dekap Malam

Selasa, 13 Februari 2018

Bersinar Kau Bagai Cahaya



Oleh     : Nin Wahyuni

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terimakasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
***Ibu__Haddad Alwy__***

Hari ini banyak yang memperingati hari ibu. Tapi, aku tidak ingin memperingatinya. Setiap hariku adalah hari terindah bersamamu. Setiap hari adalah hari spesial bersamamu. Berusaha dan belajar menghormatimu tanpa mengenal waktu tertentu. Jika banyak yang memberi kado di hari peringatan hari ibu, aku ingin menghadiahimu sepanjang waktuku. Sepanjang nafasku untuk selalu mendoakan keselamatanmu, ibu—didunia dan di akhirat kelak. Aku berusaha terus untuk membanggakanmu. Menjadi qurrata a’yun di qalbumu. Menjadi penerang langkahmu untuk bersama menuju-Nya.
Ibu…aku menyayangimu. Segenap hatiku. Seluruh jiwaku. Seluruh nafasku. Ibarat cahaya yang terpendar indah, kaulah pengisi ruang jiwaku yang selalu haus kasih sayang. Terimakasih untuk segala pengorbanan yang tak teruntai kata.
Ibu…terimakasih selalu menemani setiap celotehku setiap malam, apalagi ketika di rumah hanya ada aku dan kamu, ibu. Bercerita sepanjang malam menjadi tak terasa. Meringankan bebanku ketika tak ada satupun yang mampu mendengarku.
Ibu…terimakasih telah mengajarkanku untuk tidak manja. Mengajariku melewati terjalnya kehidupan, yang selalu menggoreskan luka dan meninggalkan rasa sakit. Mengajariku melewati kerasnya goda untuk tidak bersyukur. Mengajariku bersabar dan berdoa tanpa lelah. Mengajariku ikhlas tanpa mengemis belas kasih. Mengajariku mandiri diatas ketidakmampuan. Mengajariku pelajaran kehidupan yang tidak kudapat di bangku sekolah.
***
Ibu…sering aku ingin marah dengan keadaan. Sering menganggapmu pelit dan tidak mengerti aku. Sekalipun, kamu tidak pernah menuruti apa keinginanku, meski aku sudah merengek sampai marah, bahkan menangis. Kau tetap tidak bergeming. Membiarkanku tenang sendiri. Berulang…dan terus berulang hingga aku dewasa. Hingga bangku kuliah. Kau tidak pernah menuruti semua keinginanku. Iri? Iya sering sekali aku iri dengan kehidupan teman-teman yang serba ada. Bahkan yang ekonominya di bawah keluarga kita saja bisa membelikan anaknya ini dan itu. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mendoa agar suatu saat aku bisa membeli semua barang yang aku inginkan dengan keringatku sendiri. Aku penuh dengan kekurangan, tapi kau tetap tak menuruti inginku untuk sama seperti mereka. Sempat terfikir, apakah memang setidakpunya inikah keluargaku?
“Ibu, kita punya sawah,halaman yang luas, punya ternak, punya unggas, punya hasil kebun yang lumayan. Tapi kenapa menuruti anak-anaknya saja tidak bisa? Teman-teman rumahnya bagus, bisa beli Hp, pakaian bagus, kendaraan juga bagus,” protesku kala itu.
Jawabanmu tak pernah kuduga. Kau memintaku bersyukur. Kau memintaku bermuhasabah.
“Mereka yang kamu bilang punya rumah bagus tapi ternaknya habis dijual. Sekarang makan saja harus beli nasi karena sawah juga digadaikan, ditambah cicilan motor sedangkan tidak bekerja. Terus contoh lagi tetangga yang rumahnya bagus tapi tanahnya bukan tanah sendiri. Ada lagi yang bisa beli barang-barang mewah tapi semua tanah miliknya dijual. Kamu mau seperti mereka? Nantinya cuma bisa gigit jari?”.
  Aku masih terus mengungkit harta waris bapak. Yang bagiku tidak adil. Dari dulu bapak sudah sering mengalah dengan saudara-saudaranya. Rela tidak melanjutkan berjuang menjadi guru demi membantu orang tuanya membiayai adik-adiknya. Sekarang, ketika kakak dan adik-adik dari bapak sudah memiliki kehidupan yang layak, bapak tetap saja tak memperoleh bagian yang layak. Bapak tak memiliki hak waris yang layak. Tapi sungguh, kau adalah istri yang yang luar biasa. Kamu tidak pernah memperlakukan bapak semena-mena dengan statusmu sebagai orang yang lebih punya dari bapak. Rumah, halaman yang luas, dan sawah adalah milikmu, tapi kau tidak pernah merendahkan bapak sedikitpun.
Cuma harta dunia, katamu.
Malu rebutan harta, katamu.
Ibu…banyak hal yang harus kupelajari tentang pelajaran kehidupan ini, agar aku bisa menghadapi duri-duri yang siap menyakiti.
  Sejak itu…aku tidak pernah merengek meminta apapun padamu. Aku belajar bersyukur dengan berapapun pemberianmu. Meski sebenarnya tidak cukup, dan aku sering berpuasa demi mengehemat pengeluaran setiap mingguku. Atau bekerja paruh waktu, demi mengerti sulitnya mencari sesuap nasi.
 ***
 Ibu… kau adalah wanita hebat. Dan aku, akan menjadi wanita hebat sepertimu.

                                                ***Late post~22 Desember 2017~Not Mother’s Day


Jumat, 10 November 2017

Menjadi Guru Now untuk Siswa Now, Its My Challenge!


Image result for gambar guru hebat


Menjadi guru bagiku bukanlah hal yang masalah. Semua karena memang sudah cita-cita dan doa yang selalu terpanjatkan dari kedua orang tua. Bahkan menemui siswa yang “luar biasa” bukanlah hal baru. Apalagi, ditempatku mengajar siswanya kebanyakan adalah siswa-siswa yang”luar biasa”. Itu tidak masalah bagiku. Tapi, administrasi guru yang semakin ketat dan kompleks terkadang menjadi beban tersendiri (Aarrgghhh….curhatan guru baru yang sudah ditagih kelengkapan administrasi plus perangkat mengajar. hhe). Alhasil, administrasi dalam proses OTW yang entah kapan akan diselesaikan.
Tugas guru saat ini tidak hanya berada di kelas, tapi juga di luar kelas masih membawa seabreg tugas. Belum lagi kalau ada kegiatan lain di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang biasanya punya proker, contoh MGMP ISMUBA yang belum lama mengadakan Workshop, kepanitiaan UTS, dan Manasik Haji (kebetulan jadi sekum). Perjuangannya sungguh luar biasa. Harus pandai membagi waktu. Semua demi kemajuan dan pertumbuhan ISMUBA yang baik kedepannya.
Terlepas dari itu…ketika kembali ke sekolah harus kembali fokus dengan sajian yang ada di sekolah—anak-anak yang luar biasa, jadwal mengajar fullday, dan jika ada ekstrakurikuler, penuhlah tugas guru. Sedangkan, guru juga manusia sosial yang perlu untuk bergaul dan berkumpul dengan masyarakat. So, menjadi guru now itu sungguh tantangan yang luar biasa. Manajemen waktu kudu diperhatikan dan diatur sedemikian rupa agar tetap bisa bersosialisasi.
Kembali pada permasalahan awal. Tantangan guru di masa depan semakin kompleks. Ketika siswa sudah generasi 21, jangan sampai guru tidak beranjak dari tahun 90an atau bahkan lebih mundur lagi. Jadi apapun yang terjadi, guru harus selalu update informasi dan canggih teknologi. Guru juga tidak cukup hanya membuat siswa bisa CALISTUNG saja. Tapi harus bisa melampaui ketiga hal tersebut. Seperti azaz dasar mengajar yang diajarkan Bobby DePorter bahwa Masuklah kedunia mereka dan bawalah mereka keduniamu. Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan Pak atau Bu Bobby yang saya tidak terlalu memperhatikan jenis kelaminnya (intermezzo.hhh). Intinya, kita perlahan seolah melibatkan diri dalam kehidupan mereka. Menyentuh kehidupan mereka dan memperoleh izin memimpin adalah hal terbesar dan berharga yang tak boleh disia-siakan sedikitpun. Setelah itu, bawalah mereka ke duniamu dan masa depannya yang penuh dengan tantangan. Bangunkan. Sadarkan. Bahwa, kehidupan dimasa depan tak pernah bisa diprediksi. Ketika generasi tidak bisa survive, yang ada hanyalah menjadi kapas yang terbang tanpa arah. Mudah kabur kesana kemari tanpa tahu harus berbuat apa selain putus asa dan menyerah.
Its Challenge! Bahwa tidak mudah menjadi guru. Ibarat petani, jika salah perhitungan dalam menanam palawija atau biji-bijian lain, yang ada hanyalah diserang hama. Jika perhitungan matang dan perawatan tanaman diperhatikan dengan pemberian pupuk dan penyemprotan hama, hasilnya rata-rata baik. Hasil panen bisa melimpah dan memberikan keuntungan bagi petani dan konsumen yang bergantung hidup dengan petani. Meski untuk melakukan semua itu, pastilah ada perjuangan berupa kesabaran dan keikhlasan dalam kurun waktu yang tak sebentar. Jika itu murid, ibarat kita sedang menanam biji dan berusaha menumbuhkannya dengan siraman ilmu yang setiap hari dibubuhkan. Perlu adanya kesabaran dan keikhlasan untuk melakukannya. Karena, keberhasilan seorang guru adalah ketika melihat biji yang ditanam dan dirawatnya akan tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat. Setidaknya, harapan sederhana seorang guru adalah, biji yang ditanamnya bisa survive menghadapi pergantian musim yang tidak menentu. Seperti halnya siswa yang suatu saat terjun kedunia nyata, mereka bisa survive dengan perubahan dengan siklus cepat. Perihal menjadi apa dan siapa adalah urusan dia dan Dia.
Menjadi guru now untuk siswa now? Its Challenge! Meskipun yang kulakukan belumlah sehebat itu, setidaknya aku berusaha belajar untuk memperbaiki diri dan mencoba menjadi teman terbaik untuk siswaku. Menjadi teman berbagi keluh kesah mereka, dan sedikit demi sedikit membawa mereka ke duniaku  dan dunia masa depan. Allahu’alam.

***Bantul, 10 November 2017—Hari Pahlawan—semangat berjuang guru-guru hebat





Jumat, 03 November 2017

Jatuh


Oleh: Nin Wahyuni
Image result for gambar pelari

Jatuh? Setiap orang pasti pernah mengalami jatuh. Mengalami kesakitan yang luar biasa. Mengalami pupus harapan. Juga, mengalami depresi dan stress—tersebab jatuh. Ada luka yang menganga begitu dalam. Ada darah yang tak memancar keluar—lebam membungkus luka.
Terkadang itu semua yang menjadikan diri lebih kuat dari sebelumnya. Lebih tangguh dari sebelumnya. Dan, belajar arti kerelaan. Disaat itulah, kita mengakrabi jatuh untuk bangkit. Move up menjadi pribadi tegar dan tahan banting—dengan kembali pada pemilik hati—Allah.
Saat jatuh…be strong!
Saat jatuh…marathon! Marathon dengan target-target mimpi yang harus dicapai. Buktikan, bahwa jatuh tak akan membuatmu lumpuh, tapi semakin kuat berlari pada-Nya—yang mungkin selama ini terlalaikan. Nikmati gejolak rasa yang mengaduk-aduk ingatan lalu, yang menyesakkan, yang menguraikan lagi air mata. Tapi ingat, jangan hilangkan rasa syukur pada-Nya. Dia tahu kita mampu lewati. Dia hanya menguji sebesar apa rasa ikhlas menjalani takdir-Nya.
Jangan menyerah…hadapi…lawan…syukuri…
Kita tidak pernah sendiri, selama kita punya Allah. Dia yang akan menyembuhkan luka setelah dianggap cukup segala coba-Nya. Jangan pernah abaikan orang-orang yang menyayangi kita, hanya karena orang yang telah membuat kita jatuh dan sakit.
Mencobalah untuk bangkit dari sakit, lelehan air mata, benci, dendam, dan apapun tentang luka.
Jadilah kuat, dan selamat berjuang dari “jatuh”.

***Bantul, 3 November 2017***




Senin, 04 September 2017

Akhlak Tak Selebar Khimarku



Oleh        : Nin Wahyuni


Image result for kartun muslimahHijrah…bukan hanya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, yaitu berproses. Proses sebuah perwujudan menjadi lebih baik, menjadi lebih makna menjalani kehidupan, juga segala hal yang mengarahkan pada kebaikan.
Akhlak tak selebar khimarku.
Ketika aku menuliskan judul tersebut, aku berulang kali merenung. Memang, perjalanan hijrahku telah membuat pakaian dan khimarku benar-benar berubah. Dari yang memakai rok di atas lutut, jeans pensil, baju tanpa lengan, baju ketat, dan lainnya yang jahil. Kemudian bertranformasi menjadi wanita berkhimar karena seringnya mengikuti pengajian, juga karena ketertarikan pada dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Yah, aku suka mendengarkan sesuatu yang baik. Perkataan yang baik. Walaupun belum tentu teraplikasi dalam kehidupanku, setidaknya aku tidak menolak orang menyampaikan kebaikan di telingaku . Lagi-lagi…aku hijrah. Menjadi ukhti dengan khimar lebar, dengan gamis yang menyentuh tanah, dan berkaos kaki.
Sekali lagi, akhlak tak selebar khimarku. Akhlak tak terpancar dari lebarnya khimar dan lebarnya pakaian yang dikenakan. Aku sadar itu. Untuk mendefinisikan akhlaq, aku harus kembali menyibak buku kuliah mengenai akhlaq. Bahwa akhlaq adalah budi pekerti, perangai, atau tabiat. Dan Rasulullah diutus Allah pertama kali untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
Mengapa akhlaq dan bukan yang lainnya?
Kembali kupahami, bahwa akhlaq sangat dibutuhkan karena untuk sebuah kedamaian dan keserasian. Akhlaq adalah fondasi menjadi manusia yang baik untuk mencapai derajat mulia disisi-Nya. Akhlaq tidak hanya mengatur tata aturan berhubugan dengan manusia, tetapi juga mengatur hubungan dengan Tuhannya, bahkan dengan alam semesta sekalipun—karena hidup butuh keharmonisan.
Akhlak tak selebar khimarku. Memang.
Butuh durasi waktu yang lebih panjang dan perenungan dalam untuk memaknainya, kemudian memakainya sebagai pakaian sebenarnya.
Jangan pernah menilai dari lebarnya khimar seseorang, karena khimar tak bisa disamakan dengan kadar akhlaq yang dimiliki seseorang. Setidaknya, dia sudah menunjukkan ketaatan pada Rabb-Nya—untuk menutup aurat.
Untuk yang membaca tulisanku, kuharap kalian mendoakan perbaikan akhlaqku ketika khimar tak bisa melindungiku dari berbuat kesalahan.

***Muhasabah Selepas Dinginnya Shubuh. Bantul, 4 September 2017***

Rabu, 07 Desember 2016

Untukmu Ibu: Kasih Tak Kenal Usai


Hari ini hujan berjatuhan, tanda Tuhan melimpahkan rahmat-Nya
Hari dimana aku ingin merapal doa untuk orang terkasihku.
Malaikat yang dikirim Tuhan untuk melahirkanku, merawatku, dan membimbingku mengenal-Nya.

 Kasih tak kenal usai.
Jiwa raga, seluruh waktu, dan seluruh hidupnya telah ia berikan untukku. Yang tersisa hanyalah wajah lelah yang kulihat kala lelapnya.

Kasih tak kenal usai.
Setetes darah yang tak pernah tergantikan, demi menghadirkanku melihat indahnya dunia. Merasakan segarnya udara pagi. Juga, indahnya cahaya iman yang kini memenuhi ruang gelap hatiku.

Kusebut engkau Ibu.
Malaikat bercahaya dengan sayap tak terlihat. Memelukku kala dingin. Melindungiku kala terik. Juga menjagaku dalam doamu usai sholat. Dalam sujud panjangmu dan air mata yang tak pernah terlihat olehku. Tapi, aku percaya dalam setiap tangkup tanganmu menengadah tak pernah lupakan namaku. Tak pernah jarimu tak basah oleh air mata.

Ibu…
Jika tak sadar lidah ini menggores hatimu, menyakitimu, mengecewakanmu, maafkanlah.
Jika tak sadar lidah ini mengomel, membentak, atau berkata ahh, maafkanlah.
Jika tak sadar telinga ini pura-pura tak mendengar perintahmu, maafkanlah.
Jika tak sengaja hati ini kesal dan marah, ampunilah.

Ibu…
 Sungguh, seberapapun aku berjuang mengembalikan seluruh hutang budiku, aku takkan sanggup. Setetes darahmu pun takkan bisa kugantikan.

Ibu…
Ajarkanku setegar dirimu. Sekuat bahumu yang menopang tubuhku kala kecil.
Ajarkanku tetap tersenyum tanpa keluah kesah, walau lelah.
Ajarkan aku agar secerdas dirimu untuk mendidik anak-anakku.

Ibu…
Kenalkan aku menjadi sosok penuh kasih tanpa lelah. Sepertimu…



***Bantul, 7 Desember 2016—disaat lelahnya skripsi, ingat ibu di rumah***