Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2018

Curhat Ternyaman



Image result for the best mom
(Nin Wahyuni)

Curhat ternyaman adalah bercerita sambil meluk ibu. Hampir setiap malam aku bercerita tentang apapun yang aku alami setiap hari. Mulai dari siswaku yang super-duper bikin kesel, hingga urusan hati. Dengan begitu semua keluhan di sosmed bisa terkurangi beberapa persen—walau kadang jari ini nakal mengetik keluhan di dinding status. Tapi, terkadang secepatnya ketika aku puas mengetik, aku langsung menghapusnya. Berkali-kali aku berusaha mengontrol agar tidak semua keluhan apalagi hal yang bersifat pribadi ter-update.

Ibu adalah the best partner dalam hidupku. Setiap keputusanku, selalu ada campur tangan ibu. Bahkan, dalam pilihan apapun, ibu selalu andil di dalamnya. Kadang, dasarnya aku saja yang sering ngeyel dan tidak memperhatikan warning beliau. Ibu bukan tipe orang yang suka melarang secara tegas dan  jelas—contohnya masalah sosok pilihan—biasanya berupa sindiran. Ibu lebih bagaimana membuatku berfikir sendiri dalam memahami apa yang beliau ucapkan.

Tentang pilihanku yang berkali-kali gagal, ibu sudah memberinya warning, hanya cinta saja yang menjadikanku buta :P

“Dia kelasnya terlalu tinggi,” kata ibu.
“Tinggi gimana bu? Dia katanya juga orang biasa kok,” kataku yang masih terus membela. Walau tanpa sadar aku selalu menyebutkan harga barang-barang yang dia kenakan, yang membuat ibu agak kurang suka mendengarnya. Bahkan dengan rencana pernikahan yang terhitung tinggi, ibu sudah bilang, “Ibu gak sanggup”. Tapi, aku masih saja ngeyel bertahan. Kataku  dia orang yang bertanggung jawab. Dia berusaha tidak merepotkan keluargaku. Aku terus meyakinkan ibu. Ibu hanya diam dengan penuh tanda tanya.
Setelah wisuda bulan Oktober 2017 lalu, ibu sering melihatku di rumah. Jarang bepergian. Lebih sering kencan sama buku-buku baruku.
“Gimana kabarnya,” kata ibu kemudian.
“mmm…baik kok bu. Sekarang lagi sibuk soalnya jadi Pembina asrama,” kataku berbohong. Ternyata ibu semakin curiga denganku. Baru kali ini aku sungguh tidak bisa jujur perihal perasaanku. Aku tidak mau ibu kecewa lagi karena ada yang menyakitiku. Aku selalu menutupi semua kesedihanku, hingga twitterku penuh dengan tweet curhatan dan kata-kata baper. Mengapa bukan FB, Line, atau sosmed lain? Ya karena tidak semua orang punya twitterku jadi aku serasa bebas dengan apa yang dikatakan hati. Terakhir-terakhir ini aku baru sadar, kalau yang follow aku selalu punya pemberitahuan di tweetnya kalau ada yang update status. Dari situ, aku tidak lagi update dan menghapus tweet galau.

Tak lama dari situ, aku dikomen statusnya sama yang punya FP mutiaraislam.net. Bahkan DM juga itu FP. Semua aku ceritakan pada ibu. Awalnya kupikir itu FP akhwat, ternyata ikhwan soalnya nice banget nama FPnya. Sampai pada bertanya tentang calon. Awalnya aku jawab sudah punya calon dan segera menikah. Semua kuceritakan pada ibu sambil ketawa. Lama-lama entah mengapa seperti ada rasa bersalah yang membuatku kepikiran, hingga aku menulis quotes di IG sebagai klarifikasi. Ternyata dari situ kami kembali berkomunikasi lagi.

Aku tidak tahu bagaimana awalnya, hingga kami semakin dekat dan dia mengirimku CV sekilas tentangnya. Ada rasa nano-nano dalam hatiku. Tidak sabar CV itu kubacakan pada ibu. Tanggapan ibu juga antusias. Tapi dia sudah menjadi tulang punggung dan tanggungan hidupnya banyak, kataku. Ibu ternyata wanita bijak.
“Berarti dia orang yang bertanggung jawab. Kalau Cuma sama-sama kaya kita malah gakpapa. Kalau sama yang kemarin kelasnya terlalu tinggi,” kata ibu.
“Kembali kekamu gimana,” kata ibu lagi.
“Kalau misalkan dia jodohku gimana, Bu?”
“Ya gakpapa. Gak jauh juga kalau Cuma sesama Jawa. Sesuku juga. Setidaknya kalau sesama orang Jawa orang-orangnya bisa gemati.”
Setelah itu aku menjalin komunikasi agak intensif dengan ikhwan itu. Aku benar-benar mengaguminya walau hanya dengan profilnya dan CV nya. setelah ada komunikasi, aku mengirim balasan CV padanya. Hingga suatu ketika kami sepakat untuk bertemu.

Jumat, tanggal 23 Maret 2018, kami bertemu di Aita Coffee lounge, Bantul, pukul 16.00(prakteknya 16.30 soalnya aku nyasar dulu.hhe). Malam sebelum bertemu, aku ngobro lagi sama ibu.
“Bu, aku diajak ketemu sama mas itu. Ibu ada ganjalan atau apa gitu gak dengan yang ini? Aku mau ridho ibu kali ini,” kataku meyakinkan.
“Ya ditemui aja. Kenalan dulu gimana orangnya”
“Bu, tapi kalau foto sama aslinya beda gimana? Kalau dilihat gantengan kakak yang kemarin.hehe” candaku.
Njak sek wingi perawatane dan kelase dhuwur je (soalnya yang kemarin perawatan dan kelasnya tinggi—orang berada). Kalau sama yang kemarin jujur ibu gak setuju. Belum apa-apanya aja udah dituntut macem-macem,” kata ibu.
Ibu setuju dan bahkan dengan tangan terbuka sekali seandainya benar jodohku. Gak puas sampai disitu, aku kirim foto itu ke bibi, pak Namli, dan minta pendapat Dini sahabatku, tanggapan mereka sehati banget. Yang intinya yaudah taaruf dulu aja. insyaAllah yang terbaik kata mereka.
Aku memberanikan diri juga menghubungi teman dekatnya yang sudah 3 tahun satu atap dengan mas itu. Aku bertanya bagiamana sifat-sifatnya. Sekilas gambaran tentang dirinya. Bahkan sebelum berangkat aku meminta doa restu dari pak Ri, ketua manasik haji yang kemarin satu kepanitiaan denganku. Kami dekat karena beliau ketuanya dan aku sekretarisnya. Beliau sudah mengangapku seperti anaknya sendiri. Selalu berusaha mendoakan aku lekas menikah.
“Nduk, kalau sudah ada yang datang, jangan ditolak. Jangan lihat fisiknya. Bismillah yang terbaik. Gek ndang.”
Semua pendapat mereka membuatku mantap. Tak lepas doa dan harapanku pada Allah. Jika memang yang terbaik, apalah daya menolak seseorang yang sudah dihadirkan di hadapanku.
Acara nyasar membuatku terlambat hampir setengah jam. Aku yang sok tahu, dan pak Namli yang belum tahu.
“Pak, mungkin efek saya grogi kali ya. Kok bisa nyasar sejauh ini,” kataku. Apalagi wa dia yang mengatakan sudah di lokasi. Makin berdebar jantungku.
Setelah sampai lokasi, kaki semakin berat melangkah. Ada yang tiba-tiba seperti serangan yang menghantam dadaku. Sebuah kiriman pesan yang hanya mampu diterjemah hati.
Pertama kali kulihat bukan dia, tapi tumpukan buku yang berjajar rapi di rak buku. Tempatnya asyik. Nyaman untuk ngobrol. Apalagi aku lebih tertarik dengan buku-buku islami. Aku lebih fokus dengan buku-bukunya. Beberapa aku foto buat referensi beli buku. Aku dalam keadaan seperti itu gak bisa duduk karena pasti ketahuan gemetar dan perasaan gak karuan. Aku memandangnya hanya sekilas karena takut membuatnya tidak nyaman—padahal pesan pak Namli lihat detail gimana dia. Yang membuatku semakin pasi adalah ketika pandangan mataku menemukannya sedang melihatku sekilas. Bagiku cukup. Aku tak perlu memandangnya lebih lama lagi. Dia memang tidak seganteng dan tidak secool yang kemarin, tapi dalam hal ketenangan, dia lebih tenang ketika dilihat. Mungkin memang agak dingin dan seperti kurang luwes. Orangnya menjaga sekali. Justru aku yang minder.
“Apa iya orang seperti dirinya mau denganku? Wanita yang masih banyak sekali kekurangan?”
Dia pintar Bahasa Arab. Pengajar Lughoh, sedangkan aku belajar Lughoh saja belum istiqamah. Dia jago nahwu shorof kata temannya, sedangkan aku? Aku bukan siapa-siapa jika disejajarkan dengan dirinya. Setelah pertemuan itu, aku justru tidak mau berharap karena aku merasa tidak sepadan dengan dirinya.
Bahkan, hingga saat ini, meski dia bilang yakin denganku, walau hanya bertemu sekali, tapi aku masih terus berhati-hati. Memang tak bisa dipungkiri kalau aku sudah melabuhkan hati. Hanya saja masih terus kujaga agar tak terlalu jatuh. Aku tahu bagaiamana rasanya jika kembali jatuh. Aku tidak akan mampu bangkit dengan mudah. Dalam berdoa yang berulang-ulang, “Allah jaga hatiku. Jangan larutkan aku dalam pilihan yang salah. Cintakan aku hanya dengan seseorang yang kelak menjadi imamku.”

Sepulang dari pertemuan itu, ibu sudah mencegatku. Beliau ingin mendengar ceritaku. Tapi aku masih bungkam. Aku justru kacau gara-gara kesalahan yang kubuat pada saat pertemuan itu. Gara-gara makan makanan yang dipesan temannyaL berasa berdosa banget. Aku sampai minta maaf dan merasa bersalah. Minta dia nge-wa temannya menyampaikan permintaan maafku. Dari situ, aku sibuk sama Hp dan nyuekin Ibu. Baru setelah hari itu, aku bisa cerita sama ibu. Bahkan tentang keluarganya secara detail. Ibu sama sekali tidak keberatan atau menampakkan ketidaksukaannya.
“Bu, sekali lagi aku tanya. Kalau sama yang ini, ibu ada ganjalan gak?”
“Mengenal dulu, jangan buru-buru”.
“Boleh aku suruh main kesini? Tapi lebaran aja,” kataku.
“Iya gakapapa. Nanti digelarke kloso kulon omah,” jawab Ibu.
 Ibu emang partner hidup yang asyik diajak ngobrol. Aku sekarang sendiko dhawuh sama ibu. Pilihan ibu yang terbaik. Kalau orang tua ridho semoga Allah pun ridho. Aamiin.
Ibu adalah tempat ternyaman buat curhat apapun. Tiap malam pasti ke kamarku. Tidur di sebelahku, memancing dengan satu pertanyaan, yang berakhir pada curhatan panjang.
Love You SO Much my Mom. You are the best Mom for me.



Bantul, 1 April 2018

Minggu, 29 November 2015

Sujudku


Oleh: Nin Wahyuni
Hasil gambar untuk kartun wanita bersujud
       Menjerit dalam jilatan api yang mengganas. Melahap seluruh bangunan dan jiwa yang terkepung lingkaran api. Aku masih beruntung dapat melarikan diri meski kakiku terpanggang bara panas. Dalam ketidakberdayaanku menopang rasa sakit, di depan mataku kulihat runtuhan kios menerkam tubuh kakakku. Ainun latifah. Seorang yang memiliki mata lembut, yang selalu memberi keteduhan di hatiku. Seorang kakak yang selalu ada kapanpun aku membutuhkannya. Kejadian naas siang itu merenggut kebahagiaan yang aku punya. Merenggut jiwa orang yang aku sayangi. Menyisakan serpihan luka di hatiku.
    “Kak Ainun!!!” teriakku meronta dalam kesakitan menahan panas balok kayu yang masih bertengger di atas kakiku. Api telah melumat tubuhnya. Pasar itu roboh seketika, bersamaan asap tebal yang membubung membawa jiwa kakakku.
        Siang itu tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Semua terlihat normal. Siang itu aku dan kak Ainun berjualan seperti biasa. Kami menjual pakaian untuk menyambung hidup sehari-hari. Sejak kedua orangtuaku meninggal 2 tahun yang lalu, aku hanya tinggal bersama kakakku. Kini aku sebatang kara. Menjalani hidup seorang diri. Tak ada lagi tempat berbagi letih dan senyum.
***
      Satu bulan rasa berkabungku belum jua usai. Bukan rasa sedih kehilangan kakakku–aku telah mengikhlaskannya–tapi rasa berkabung melihat kondisi pasar yang urung dibenahi. Kakiku kelu meninggalkan reruntuhan pasar yang berserakan. Satu-satunya mata pencaharianku terancam hilang. Dalam benakku yang kupikirkan adalah modalku menipis dan kontrakanku sudah masa tenggang.
       Kakiku semakin kelu untuk melangkah. Angin berembus kencang menerbangkanku tanpa arah. Disebuah rumah yang sangat ramai orang berdatangan, aku duduk terdiam. Memandangi mereka yang berlalu lalang. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan.
        “Adik, lagi ngapaian disini?” kata seorang wanita dengan dandanan sangat menor.  Ia tersenyum bersahabat.
          “Saya tidak tahu Bu,” jawabku sambil menerawang entah kemana.
          “Kamu sepertinya banyak masalah, ya?”
         “Iya Bu. Saya butuh uang. Pasar tempat saya berjualan belum juga dibenahi sedang persediaan beras sudah menipis, mana kontrakan juga sudah habis. Saya takut untuk pulang. Ibu kos pasti marah,” curhatku pada wanita yang baru saja kukenal itu. begitu polosnya aku menceritakan keadaanku. Wanita itu tersenyum dan membelai kepalaku. Dipeluknya aku dengan penuh kasih. Membuatku luluh dan melelehkan air mata. Aku nyaman—berada dalam pelukan wanita itu.
          “Ayo ikut Ibu. Nanti saya kasih kamu pekerjaan yang gajinya gede,” katanya sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam rumah yang paling mewah di komplek itu.

      Astagfirullahal’adzim, tempat apa ini? banyak sekali orang disini. Mengapa pakaian mereka semua minim dan mereka berdansa tak jelas bersama lelaki. Apakah—?

    “Hai, Nak? Kenapa? Kamu nanti juga akan seperti mereka. Bayangkan, hanya menari dan menemani lelaki satu malam kamu bisa membeli barang yang kamu mau. Itu bukan pekerjaan berat, bukan?” kata wanita itu. Dengan mudahnya ia mengucapkan kata-kata tak senonoh itu padaku. Dia tak mempedulikan aku yang berjilbab—seharusnya dia berfikir itu tak pantas—melihat busanaku yang tertutup.
       “ Maaf Bu, saya tidak jadi. Permisi,” kataku sambil melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Wanita itu berteriak memanggil bodyguardnya untuk mengejarku. Aku kaget. Menyadari tengah dalam kejarannya, kucincing rokku untuk berlari sekencang mungkin.
     Bukkk… lelaki itu memukul kepalaku dengan kayu. Darah segar mengucur di kepalaku. Aku roboh.
      Allah, tolong aku. Lindungi aku. Jangan biarkan orang ini mengotori jilbabku dengan tangan kotornya,” Doaku dalam hati. Aku pura-pura tak sadarkan diri. Orang itu hendak menyentuhku, namun diurungkan melihat kondisiku yang bersimbah darah. Ia kemudian berlalu meninggalkanku.
  Malam itu aku tergolek lemah. Tak bisa lagi langkahkan kaki.
 Kak Ainun…jika saja kakak disini, kakak pasti melindungiku. Kakak tak mungkin membiarkanku dilukai orang. Kak…
***
     “Bangun! Tidur mulu!” teriak seorang perempuan sambil menendangku. Kepalaku sakit sekali ketika kubuka mata. Darah di kepala mengering. Jilbabku sudah sangat lusuh dan bersimbah darah.
        “Maaf, kakak ini siapa?”
      “Gak usah banyak tanya! Sekarang ganti baju dan kerja! Sudah untung kamu aku tolong tadi malam,” kata perempuan itu dengan kasar. Kulihat sekelilingku. Kuamati dengan teliti, mirip gudang penyimpanan yang lama tidak digunakan. Sesekali aku terbatuk. Ruangan itu nampak pengap dan berdebu. Aku meneteskan air mata. Begitu malangnya hidupku.
     “Malah nangis! Cepetan ganti baju! ngemis atau nyopet sana!” katanya membentakku. Aku menggeleng. Tak mungkin aku melakukan pekerjaan hina itu. Dengan marahnya perempuan itu menarik jilbabku. Aku berusaha mempertahankannya. Aku takkan mempertaruhkan kehormatanku—meski tendangan dan pukulan mendarat di tubuhku—aku babak belur.
      “Sudah Ren, kasihan dia sudah tak berdaya. Manfaatkan aja jadi pengemis atau kasih baju muslim yang bagus. Tak akan ada yang curiga kalau ada pencopet berjilbab,” kata temannya. Orang yang disebut Ren tadi tersenyum penuh kemenangan. Aku tunduk pasrah dengan keadaanku. Dalam hatiku, aku menentang perbuatan yang akan aku lakukan. Panas yang memanggang kakiku takkan sebanding dengan panas neraka—kini aku akan menceburkan diri kedalamnya—dengan perbuatan keji yang akan kulakukan—menjadi seorang pencopet. Aku tertekam dalam biduk parau kehidupan. Aku pasrah—menjalani kehidupan dengan ketidakberdayaanku.
***
    Siang itu angkot sedang ramai dan berdesak-desakan. Dengan tangan gemetar, kumasukkan tanganku kedalam salah satu tas penumpang. Kejadian tak terduga terjadi, dompet yang aku ambil dari salah satu penumpang jatuh dari genggamanku. Aku panik dan langsung meloncat dari angkot. Dengan terpincang-pincang aku berlari menyelamatkan diri.
    “Copet… copet!” teriak semua orang yang ada di dalam angkot. Beberapa dari mereka mengejarku. Aku panik. Tak tahu arah mana lagi yang akan menjadi tujuan kakiku melangkah.
       “Allah, jika Engkau ada, mengapa tak pernah  kau datang menolongku? Kau biarkan aku terlunta dan menderita. Aku benci dengan kehidupan ini! Kau ambil semua kebahagiaanku, bahkan aku tak tahu bagaimana bersyukur dan berterimakasih pada-Mu lagi. Allah… dimana Engkau!” teriak putus asaku di tepi sungai. Dari kejauhan, aku dengar lagi teriakan yang meneriakiku copet. Aku segera bersembunyi di sebuah Musholla tak jauh dari sungai itu. Segera kukenakan mukena dan bersujud. Disitulah semua air mataku tertumpah, membuatku larut dalam sujud.
      Saat kubuka mata, ternyata aku bersujud di sajadah bergambar Ka’bah. Kerinduan semakin menyelinap dalam rongga hati. Kudekap erat sajadah bergambar Ka’bah itu. Kucium dengan penuh kerinduan.
      Laabbaikkallahumma Labbaik… Labbaikalla syaarikalaka labbaik…
         Talbiyahku tersendat dengan tangis. Berulang-ulang kuserukan kalimat talbiyah itu hingga aku tertidur dalam sentuhan Ka’bah. Dalam tidurku aku bermimpi melihat Kak Ainun dan kedua orangtuaku tersenyum padaku. Mereka melambaikan tangannya padaku, ditengah kerumunan orang yang berthawaf.
         “Ibu… Bapak…Kak Ainun!” teriakku menghampiri mereka. Namun mereka semakin menjauh, dan menghilang. Aku berteriak, hingga terbangun dari tidurku. Sajadah itu masih terpeluk erat dalam dekapanku. Ternyata aku tak benar-benar sendiri—Allah, kedua orangtuaku, dan kakakku—tak benar-benar meninggalkanku. Mereka masih ada—di hatiku.
         Mendung siang itu menghadirkan awan cerah untuku tersenyum. Sepercik harapan menghiasi sudut bibirku—dengan senyuman.

      Allah terimalah sujudku, airmataku, dan kepasrahanku…
***  


Senin, 26 Oktober 2015

Hujan Kerinduan

  oleh: Nin Wahyuni

Aku termenung memandangi guyuran hujan yang menghujam bumi. Mataku berusaha menerobos jajaran hujan yang berbaris rapi, dimana tersimpan kenangan akan sebuah kerinduan. Bayangan itu kembali hadir—seseorang yang menciptakan kenangan tentang hujan.
Di tengah derasnya hujan, tanganku menengadah, menampung ribuan hujan yang mendarat di tanganku. Kupejamkan mataku, untuk merasakan kehadirannya—seseorang yang selalu kurindukan.
Suara tawa itu, suara tawa yang sangat kukenal, suara yang kurindukan itu hadir kembali. Seperti halnya dulu, tanganku ditarik untuk berlari menembus hujan.
“Nayla! Sadar, Nak. Kamu hampir terjerembab dari kursi rodamu,” teriak Ibu menghampiri dan memelukku.
“Nak, hampir 3 tahun kamu diam. Hampir 3 tahun Ibu tak mendengar tawa ceriamu. Hampir 3 tahun kamu memasung dirimu di kursi roda ini. Ibu merindukanmu, Nak. Ikhlaskan dia,” bujuk Ibu dalam tangisnya sembari memelukku.

Minggu, 18 Oktober 2015

Menemukan Cinta Ali



Oleh: Nin Wahyuni

Bisikan merdu terus bertalu di telingaku. Ingin rasanya mengabaikan, namun ia sangat dekat, sedekat hati pada kerinduan. Tak ada yang bisa mengusirnya—karena ini memang sebuah rindu, yang sulit untuk berpaling.
Bingung.
Hatiku terus merutuki perasaan yang akhir-akhir ini hadir—mengacaukan ketenanganku. Mmm…tunggu! Ini bukan sebuah kekacauan. Bukankah kubilang tadi sebuah kerinduan? Ya, sebuah kerinduan yang telah lama kuimpikan.  
Mimpi? apakah orang sepertiku masih memiliki mimpi? tepatnya masihkah pantas orang sepertiku bermimpi? aku telah hancur. Lembaran-lembaranku telah ternoda tinta pekat. Tak mudah terhapus.
Harapan.
Jika semua telah terenggut, setidaknya aku masih memiliki harapan—paling tidak, sesuatu yang membuatku tak mengakhiri hidupku saat ini.  Aku masih percaya dengan “keajaiban”, yang sebenarnya aku sendiri tak teralu percaya. Tapi, laaah biarlah. Intinya, aku belum siap mati.
Banyak yang menertawakan harapan sederhanaku. Bahkan diriku pun menertawakannya. Yaitu menjadi Fatimah yang menemukan cinta Ali. Yah, aku merindukan sosok teduh dalam hidupku. Yang mampu membawaku menghirup aroma syurga.
Masa lalu, bukankah dia terus menjauh pergi? Tapi mengapa malam-malamku selalu dihiasi ketakutan? Bukan karena masa lalu, tapi apa yang ada di masa lalu yang terus membuntuti sepanjang waktu. Membuatku sangat takut.
Oh…suara-suara pergilah!aku sungguh tak mengerti! jeritku seorang diri.
Semilir rona jingga berembus menyibakkan rambutku. Menatap menawannya langit di sore hari. Terpekur aku seorang diri, ditemani goyangan rumput-rumput disekitarku. Hari menjelang gelap. Suara itu kembali terdengar merdu di telingaku, bersamaan tenggelamnya rona merah jambu penghias langit, hanyut terbawa kelamnya malam.
Aku masih duduk sendiri di galengan sawah. Menanti diriku tenggelam jua dalam penghayatan kalimat-kalimat yang sebenarnya tak asing bagiku. Yang sehari ada lima kali suara itu berdengung di telingaku, yang sering kuabaikan. Orang menyebutnya Adzan. Sebuah panggilan. Seperti yang kurasakan saat ini—di hatiku—sebuah panggilan untuk kembali.
***
“Zahra, kamu sudah siap?” kata seorang laki-laki yang menyadarkanku dari lamunan. Dengan tangan gemetar, kuterima kartu nama serta kunci kamar sebuah hotel berbintang. Tertulis kamar 103. Air mataku kembali beruraian. Kutangkup tanganku menutupi wajahku. Bukan! Bukan karena tak ingin lelaki dihadapanku melihat bengkak mataku yang semalaman tak henti menangis, dan kini harus kembali beruraian air mata lagi. Tapi menahan perih di ulu hati, yang tak tahu harus kututup dengan apa rasa sakit ini.

Senin, 29 Juni 2015

Menembus Kemustahilan



Oleh: Nin Wahyuni


Sesekali kuseka air mata yang terus mengalir di pipiku. Haruskah aku menangis atau bahagia dengan keadaanku saat ini? teriakan demi teriakan terus mengalun di telingaku. Aku tak mengenal mereka—satupun tak ada yang ku kenal. Senyum yang telah lama kusembunyikan, kini tersungging lagi di bibirku.
“Anira!Aniraaaaaa! I love You !!! We are love you!” teriakan dari seberang yang terus menggema di telingaku. Kata-kata yang berhamburan meneriakiku, semakin tak jelas karena berjubel manusia berebut menyambutku. Kini saatnya aku duduk di sebuah ruangan. Aku tak tahu berapa orang yang menemaniku saat itu. Yang aku tahu, Ibu selalu ada disampingku.
        Sepuluh menit aku duduk terdiam dengan sunggingan senyum. Seorang wanita memegang tanganku—Ia bukan Ibuku. Tangannya lembut, tak sekasar ibu. Aku hanya tersenyum ketika tanganku diremas. Kurasakan air mata jatuh di tanganku—orang itu menangis sebelum sempat berkata-kata.
“Sebelum pada inti acara, kita akan memperkenalkan seorang inspirator yang sudah ada dihadapan kita. Anira Qurrata A’yun, seorang penulis tuna netra yang tulisannya menginspirasi kita semua!” teriak wanita itu dengan antusias mengalahkan isak tangisnya. Kudengar tepuk tangan riuh menggetarkan hatiku.
“Apa yang membuat seorang Anira termotivasi untuk menjadi seperti sekarang ini?” kata perempuan itu padaku.
“Baiklah, awalnya saya merasa putus asa dengan keadaan ini. Dunia yang dulu kulihat begitu indah, kini 3 tahun belakangan kulihat hanya gelap. Bahkan untuk melihat diri saya sendiri pun, saya tak mampu. Akhirnya saya mencari celah untuk keluar dari kegelapan. Saya tak ingin terkepung dalam kegelapan dan hidup tanpa rasa, kemudian dengan tangan ini saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membuat dunia saya indah kembali,” kataku dengan senyuman.
“Lalu, apa yang membuat Anira tidak bisa melihat?”
Air mata kembali mencair di pipiku. Kurasakan tangan Ibu meraihku, menguatkanku. Kuceritakan, hingga kata-kataku tersendat karena tangisku. Memori 3 tahun lalu kubuka kembali. Tentang sebuah kecelakaan di tangga sekolah yang membuatku kehilangan penglihatan. Tentang sebuah kecelakaan yang disengaja, karena kecemburuan seorang yang kukenal—ia sahabatku sendiri. Ia tak rela melihatku selalu mengunggulinya dalam segala hal. Awalnya aku tak menerima keadaanku. Hingga kurasakan dunia semakin jahat memenjarakan asaku. Akhirnya kutemukan celah bahwa, memaafkan dan berdamai dengan keadaan membuat keindahan itu kembali hadir—walau  dengan cara yang berbeda, dan lebih indah.
Akhirnya keadaan membuatku sadar tentang arti ketidakmampuan, yang membuatku terus belajar. Ketidakmampuan membuatku rajin menghafal tuuts pada keyboard. Hingga aku dapat menari lincah dengan jari-jariku. Inilah caraku memahami diriku dari keterbatasanku.
Jemari inilah yang mengantarkanku menembus ruang kemustahilan, bagi seorang tuna netra sepertiku. Aku menyingkirkan segala prasangkaku kepada Tuhan tentang ketidak adilan. Inilah aku dengan segala kelebihanku—sebagai makhluk istimewa.
Aku bangkit dari dudukku. Kusapa semua kawan-kawanku.
      “Kawan, mungkin aku tak bisa melihat sosok kalian begitupun kalian yang tak bisa melihat sosokku. Tapi, mari kita ulurkan tangan untuk saling menguatkan. Kita tak selemah yang terlihat. Kita adalah makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan. Kawan, jangan pernah takut untuk bermimpi karena apa yang ada di dunia ini nothing impossible. Tuhan itu adil dan memiliki kasih kepada semua makhluk-Nya,” kataku mengakhiri jumpa talkshow ‘keterbatasan menjadi tanpa batas’. Kutahu di ruangan itu sedang banjir air mata bahagia. Akupun bahagia membuktikan pada teman-teman tuna netraku bahwa keterbatasan adalah kekuatan untuk melakukan hal-hal lebih.

***
      ***Tanggal 20 April 2015 cerpen ini dikirim ke Kakaye Publishing dengan tema “Impossible, Keterbatasan Menjadi Tanpa Batas”. Masuk dalam 25 antologi cerpen yang dibukukan.