Tampilkan postingan dengan label My Reminders. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Reminders. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2019

Ibu: Cinta Terbaik

Hasil gambar untuk love mother

Oleh : Nin Wahyuni


Ibu...beberapa hari lalu banyak sekali yang mengucapkan hari ibu. Bahkan, sampai umurku 24 tahun aku tak pernah mengucapkan apalagi memberimu kado spesial. Padahal, betapa besarnya jasamu, Ibu. Setetes darahmu pun tak bisa terbalaskan. Ibu,  kau adalah cinta terbaikku. Aku tak punya alasan mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk mengucapkan terimakasih dan ucapan sayangku padamu. Kau selalu ada dalam doa-doaku setiap hari.

            Sampai hari ini, diumurku yang sudah 24 tahun, aku belum menemukan cinta sebaik dirimu. Bahkan mempunyai teman-temanpun tak pernah merasa mereka benar-benar mencintaiku. Mungkin itulah yang membuatku sering merasa kesepian. Merasa tak memiliki teman yang benar-benar merasa berarti seperti dirimu. Yang selalu ada setiap aku menghadapi masalah pelik dalam hidupku. Walau begitu, aku mencoba membuka diri untuk merasakan kehadiran mereka yang baik padaku. Menganggap mereka sahabat, walau tetap saja dirimu segalanya. Bagiku engkau bukan hanya ibu, tapi sahabat, bahkan kekasih.

            Hampir setiap hari, terutama di malam hari, tak pernah bosan menemaniku bercerita. Bercerita apa saja yang kualami setiap hari. Tentang pekerjaanku, teman-temanku, murid-muridku, bahkan seseorang yang dekat denganku. Kau adalah tempat ternyaman mengutarakan rasa. Seakan memiliki ibu sepertimu adalah anugrah terindah dalam hidupku.

Sebentar lagi aku menikah. Pastinya kita tak akan sedekat ini lagi. Akupun tidak tahu apakah nanti seseorang yang akan menemaniku, bisa mendengar cerita-ceritaku setiap malam? Kuharap dia sama sepertimu, tidak bosan mendengar cerita-ceritaku. Meski aku tidak tahu apakah dia bisa sepertimu, Bu. Betapa aku tidak ingin membandingkan dirimu dengan dirinya. Seperti nasehatmu. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita juga tidak bisa memaksa seseorang seperti yang kita mau. Tapi, semoga dia yang sudah dipilihkan untukku adalah cinta terbaikku juga—meski berbeda perlakuan—tak sepertimu Ibu. Semoga dia menyayangiku seperti Ibu menyayangiku—tulus.

Katamu, menikah itu saling melengkapi. Saling mengisi kekosongan. Saling memahami. Saling menguatkan. Berkali-kali juga engkau mengingatkanku untuk tidak menuntutnya sempurna. Tidak boleh membandingkan dengan laki-laki lain yang pernah kutemui sebelumnya. Tidak boleh ditampakkan kekurangannya, cacatnya kepada orang lain. Harus menjadi istri yang cerdas mengelola keuangan. Rajin nabung. Jangan banyak kepengennya. Hidup hemat. Banyak mikir masa depan. Jangan boros. Sayang sama keluarga suami seperti aku sayang sama keluargaku sendiri. Membiarkan suami memberikan kewajibannya pada orang tuanya. Harus selalu qanaah, dan masih banyak lagi nasehat yang engkau berikan.

Ahhh...betapa aku baru sadar kalau aku sudah dewasa. Tema pembicaraan kita sudah berubah. Yang dulu bicara soal teman sekelas yang nyebelin. Tentang guru yang bikin ngantuk saat pelajaran. Tentang laki-laki yang naksir aku, dan masih banyak lagi. Sekarang...temanya sudah lain. Betapa waktu berjalan begitu cepat, Bu. Semoga Allah selalu memberimu kesehatan dan umur panjang. Aku sangat mencintaimu. Doakan anakmu ini bersama orang yang tepat. Yang tidak hanya menemani, tapi juga bisa membimbingku menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Ibu...aku sangat...sangat menyayangimu. Semakin hari aku semakin menyayangimu. Hari-hari ini semakin bermakna bagiku. Sebelum aku menikah...semoga Allah mengabulkan doa-doaku. Di hujan yang turun kali ini semoga Allah mengijabahnya. Semoga Ibu lekas berhijab dan shalatnya tetap dijaga agar selalu bisa lima waktu. Semoga Allah selalu memberimu hidayah yang menuntunmu menjadi sosok yang lebih baik lagi. Semoga malaikat sedang mengaminkan doa-doaku malam ini. Sebanyak tetesan hujan yang turun, turut mengaminkan doaku.


Bantul, 27 Desember 2018, “Dari Anakmu yang sangat menyayangimu”


Jumat, 13 Juli 2018

Tak Mampu Ungkapkan Rasa


Image result for tak mampu ungkapkan rasa
Oleh: Nin Wahyuni


Aku kembali pada titik balik  pertanyaan tentang iffah dan izzahku sebagai seorang wanita. Bagaimana pernyataan menjaga diri mampu kupertanggung jawabkan? Memang, dalam hidup ini selalu menawarkan pilihan, sekalipun pilihan itu tak memihak hati dan keinginan kita. Ada saat kita sendiri yang harus tegas pada hati kita untuk berhenti, walau tak ingin akhiri.

Mungkin tentang semua ketakutan atau segala prasangka yang tak kubiarkan bersarang dalam pikiran dan hati. Mungkin rasa yang kemudian membawaku pada hal bernama “galau”. Atau apapun itu. Berkali-kali hatiku berkata “jangan jatuh lagi. Kamu tak akan sanggup jatuh untuk yang kesekian kalinya”. Menunggu memang melelahkan, tapi aku mampu. Tapi cinta yang semakin tumbuh, dan rindu yang semakin berat? tidak bisa selalu aku bebankan pada hati, karena tak mampu ungkapkan rasa. Bahwa, aku ingin diperjuangkan. Aku ingin layak menjadi seseorang yang diperjuangkan dengan cara yang paling agung. 

Aku tahu setiap keputusan akan memiliki konsekuensi. Mungkin kembali patah atau sesuai harapan. Aku hanya ingin menghentikan segala macam pikiran jahat dan cengkraman prasangka dalam diri. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak bermunculan dan menguasai alam pikirku.

Bagaimana cinta karena Allah tapi membiarkan waktuku habis memikirkannya? Bagaimana aku bisa dianggap menjaga ketika masih berlena dengan dirinya, walau kataku sudah membatasi dengan yang lain?

Atau…

Bagaimana bisa membiarkan diri selalu dalam gurauan dan candaan, sehingga kamu berfikir aku menjadi tak layak diperjuangkan?

Aku tidak bisa bersaing dengan banyak wanita diluar sana yang memiliki banyak kelebihan. Yang kapanpun bisa beralih pada mereka yang lebih dari segalanya. Aku sadar itu. Tidak ada wanita buruk rupa zaman sekarang. Tidak ada yang bodoh wanita zaman sekarang. 

Aku tidak ingin menjadi batu loncatan ketika rasaku telah dalam, tidak ingin hanya menjadi tempat persinggahan sementara pelepas lelah, tempat gurauan, atau apapun itu yang akhirnya membuatku jatuh.

Aku takut jatuh. Iya. Hanya itu.

Tapi…aku tak mampu ungkapkan rasa.

Siapapun, mengertilah.


Bantul, 17 Juli 2018*Renungan di hari sekolah H-2

Kamis, 05 Juli 2018

Luruskan Niat!



Oleh : Nin Wahyuni

Ketika banjir dengan pertanyaan “kapan nikah” akhir-akhir ini, aku cuma bisa jawab “doain aja” sambil melempar senyum.

Iya pengen. Pengen banget cepet nikah. Nikah sama seseorang yang Allah pilihkan, direstui kedua orang tua, orang yang aku semogakan, sholeh, penyayang, akhlaknya baik, lainnya bonus misal; ganteng, mapan, minimal S1… nah loh? Kriterianya itu hlo kok maksa banget. Ya setiap orang bebas dong menentukan kriteria. Tapi bagiku bonusnya gak terlalu ngaruh sih asal sholeh dan mau sama aku. Hihi

Kalau ditanya “udah siap nikah?” aku pasti jawab “belum” sambil mewek. “kok statusnya baper dan galau?” ahh sebenernya aku gak sebaper dan segalau postingan statusku kok. Asli. Status cuma ikut-ikutan temen aja yang udah pada baper akut kebelet nikah. Aku mah santai (gak juga sih) tetep punya target.

Nikah itu kan tujuannya untuk ibadah. Nah, kalau cuma biar gak baper dan bisa jawab pertanyaan “kapan?” apa bedanya sama mainan pasar-pasaran anak kecil? Nikah gak serendah itu. Berat. Bisa gak tidur mikirin nikah (lebay).

Luruskan niat!

Ya, aku dinasehatin ibu kalau sudah ada yang berani datang ke rumah jangan dilarang. Nunggu aku siap kapan aku nikahnya? Itu kata ibu. Bener sih kalau ditanya siap nikah apa belum, jawabnya pasti belum terus.

Pernah ditanya tentang nikah sama temen yang udah nikah. Aku jawabnya mau perbaiki diri dulu. Ya intinya berbenah lah ya biar nanti suamiku gak nyesel nikah sama wanita sepertiku. Jawabnya bikin jantung nyesek. “Perbaiki diri” itu butuh biaya banyak katanya. Paham maksudnya? Terus dia bilang lagi, “ berbenah? Berbenah emang mau kemana?” ahhh penuh kiasan, tapi ada benernya juga sih. Jangan karena alasan gak syar’I menjadi sebab takut nikah. Nasehat dia ke aku, baiknya sama-sama aja biar enak. Ada yang saling mendukung. Wkwkwk yaudah aku mau nikah cepet kalau gitu..oopss…(sambil nutup mulut pakai tangan).

Ada kisah temanku sendiri yang dia belum siap nikah, ehhh kebablasan umur hampir kepala 3. Itupun dia bilangnya sebenernya belum siap, tapi ya mau gimana lagi? Akhirnya dia mau dijodohin sama teman ngajinya. Dia nikah diumur lebih dari 30 tahun. Aku gakmau. Huaaaaaaa (nangis Bombay). Makanya dari sekarang udah mikir keras jangan sampai kelewat umur bunga yang lagi subur-suburnya kembang.

Mulai sekarang udah sibuk sama buku-buku bekal sebelum nikah, kajian pra nikah, diskusi tentang nikah, dan yang pasti gak akan nglarang orang yang mau silaturahmi sekaligus ngomong serius sama bapak (udah sih. Hihi).

Tahap awal sudah dilalui. Tinggal nunggu Allah kasih keputusan kapan dia datang lagi, sambil berdoa yang terbaik dan semua yang baik-baik. Sering nitip ibu buat doain juga biar masnya datang lagi diwaktu yang tepat. Gak perlu cepat kok, tapi tepat waktu. Hehe.

Kan baru kenal? Kok cepet ambil keputusannya? Kalau kelamaan mikir namanya PHP. Gak enak banget di PHP. Terus gak ngenalin dulu gitu gimana kepribadiannya? Yang pacaran lama aja belum tentu tau gimana sifatnya loh(kata anak-anak jaman now). Sekarang aku gakmau ribet sih buat ngenalin orang. Tanya teman dekatnya, tanya aktivitasnya, croscek ke teman-temannya, siapa aja temannya, tantang berani gak ke rumah, minta pendapat ibu, minta pendapat teman-teman dekatku, minta pendapat keluarga, udah gitu aja cukup. Kalau keluarga bilang baik dan dianya mau lanjut ya aku gakkan nolak. Kalau dia serius, aku bisa apa? siapa tau dia adalah salah satu dari deretan doa-doa panjang yang sering aku panjatkan. Kalau sudah pilihan Allah, gak ada alasan untuk nolak kan? Karena pilihan Allah yang terbaik, siapapun itu.

Cinta? Jangan tanya soal cinta. Karena aku gaktau gimana rasanya cinta yang bener-bener perasaan cinta sebelum akad. Jadi nikah dulu baru nanti aku jawab soal cinta. Hehe tapi kalau masalah yakin, insyaAllah sudah.

Cinta itu datangnya dari Allah. Allah yang akan memberikan rasa cinta itu di tempat yang tepat, yaitu kalau sudah akad.
Jadi kalau mau nikah, lurusin niat dulu. Niat ibadah karena Allah.

Bantul, 5 Juli 2018#Antibaper#antimainstream#singelillahsampaihalal##



Selasa, 01 Mei 2018

Jempretan Senja: Khayalanku Bersamamu



 Oleh    : Nin Wahyuni


Sore ini, aku memotret senja. Begitu indah dengan jepretan amatiranku. Cukuplah untuk melambungkan khayalanku bersamamu.

Aku berkhayal bisa memandang senja bersamamu. Aku ingin bersandar di bahumu, kemudian mendengarmu bercerita banyak hal tentang Yang menciptakan keindahan. Aku ingin mendengar banyak tentang Dia yang sudah melukis indah kanvas langit dengan begitu menawan. Aku yakin, kamu takkan keberatan, kan?

Untukmu yang kusemogakan, bawa aku lebih dekat mengenal-Nya. Agar aku bisa mencari arti kebahagiaan sesungguhnya.

Aku ingin melihat banyak hal yang indah tentang-Nya. Tentang yang sudah Dia ciptakan dengan kesempurnaan. 

Bolehkah aku meminta? Maukah kamu memandang senja bersamaku dikehidupan mendatang?



Bantul, 1 mei 2018—Senja Hari Ini

Kamis, 26 April 2018

Jalan-Jalan Sore: Doa-Doa Romantis



Oleh : Nin Wahyuni

Alhamdulillah masih punya lupa. Lupa kalau hari ini gak ada jadwal ngeles Adelia. Sampai gerbang rumahnya dia kaget, “Loh, hari ini les, Mbak?” kata Adel kaget. Dahiku berkerut dan cuma keluar kata “Ooopss” sambil nyengir. Tapi dia anak yang sholehah kok jadi gak nyuruh aku pulang.hehe

Aku datang, dia agak cemberut karena bukan jadwal les. Tantenya bilang, “Yaudah nanti keluar aja main sama Mbak Ning”. Mendadak raut wajahnya jadi ceria. Dia langsung mandi, dandan cantik, dan nyiapin perbekalan buat jalan-jalan. Kubilang mau Wa ibunya dulu buat izin, tapi kata tantenya gakpapa gak usah.

Yaudah deh kita akhirnya nyepeda romantis. Walau dengan beribu keribetan yang ada—rok, sepeda cowok, tinggi pula sepedanya.

Kita menyusuri jalanan sawah dengan medan yang menegangkan. Cukuplah memacu adrenalin biar lebih berdebar, ditambah acara nyasar ke jalan buntu. Akhirnya puter arah, yang ternyata juga salah jalan karena dimana-mana ada anjing. Mau puter pulang gak boleh. Katanya mau ke sawah liat pemandangan. Iya deh diturutin maunya biar gak cemberut lagi.

Sampai sawah. Maasya Allah hijaunya gak nguatin. Anginnya sejuk banget. Dan tetiba lapar menyerang karena perjalanan jauh yang menegangkan.

(Adegan romantispun dimulai)
Lagi duduk di pinggir sawah.
“Mbak Adel, kalau udah kelas 3 Mbak Ning gak ngajar lagi gimana?”
“Kenapa Mbak Ning?” dengan polosnya.
“Mbak Ning takut gak bisa ngajar materi Mbak Adel lagi. Nanti diajarinnya sama yang lain ya?” dia langsung ngliat ke aku dengan tatapan bete.
“Gak mau. Nanti bilang sama Mama kalau Mbak Ning gak ngajar dijemput ke rumahnya.”
“Mbak Ning gak bisa galak kalau Mbak Adel lagi ngeyel belajar,” kataku masih cari-cari alasan.
“Yaudah nanti Mbak Ning jadi galak aja kalau gitu,” jawabnya sambil nyengir.

Yaaa...kata “pamit” selalu menjadi hal terberat yang diucapkan. Karena melepaskan sesuatu itu tidak mudah, butuh hati yang tega untuk mengucapkannya. Sama seperti waktu pamitan sama Ibu yang di UPY. Aku pamit gak ngajar lagi karena jarak dan karena tugasku menjadi tentor pengganti sudah selesai. Tapi Ibu itu gak nglepasin tanganku sebelum aku menarik kembali keputusanku.

Sama…Adel juga gitu. Berkali-kali aku baper lagi. Baper sama hidupku. Mereka takut dilepaskan, sedangkan aku berkali-kali dilepaskan(mendadak sedih). Bukankah dengan melepaskan akan mendapat yang lebih baik? Itu yang selalu aku percaya, sehingga bisa setegar sekarang dengan apapun takdir-Nya (kok mendadak Mellow sihL).

Doa-doa romantis. Bukan Adel namanya kalau gak pernah berdoa yang romantis.
“Kalau Mbak Ning nikah gimana? Terus gak dibolehin ngajar Mbak Adel? Kan katanya tahun ini Mbak Ning nikah,” kataku masih menggoda. Dia diam.
“Yaudah doain suami Mbak Ning nanti laki-laki sholeh jadi ngizinin ngeles Mbak Adel terus deh,” rayuku.
“Ya Allah semoga Mbak Ning jodohnya laki-laki sholeh, penyayang, ganteng, dan ngebolehin ngajar aku lagi. Semoga Mbak Ning nikahnya pas Mbak Ning ulang tahun 2018.”
Nah loh? Ada akselerasi doa lagi. Selalu begitu. Tapi yang pasti, doanya selalu romantis dan manis sekali. Semoga Allah mengabulkan doa-doamu yaJ

#Bantul, 25 April 2018#doa-doa romantis—seromantis harapanku yang manis
#Sekali-kali lebay deh.wkwkwkwk


Selasa, 24 April 2018

JAVA MILK: Pertemuan Semanis Perpaduan Milk and Fruit



Oleh: Nin Wahyuni




Pertemuan itu manis. Semanis penantianku pada milk guava. Perpaduan milk and fruit yang sempurna di lidah. 

Semanis itu pertemuan kita. Ahaaaa terlalu lebay. Tapi begitulah mengartikan senyumanmu dan kelembutan suaramu. Penantianku pada segelas milk guava seperti kesabaranmu menghabiskan roti bakar dan pudding manis di hadapanmu.

Aku sudah berlatih untuk semua pertanyaan-pertanyaan yang ingin kusampaikan padamu. Sudah kutulis pada note di Handphoneku. Tiba saatnya, semua yang terpikir hilang, semua yang tertulis lupa.

Sampai pada kesimpulan, “Sumpah aku grogi banget”.

Kamu yang santai tapi membuatku tegang. Kamu yang berusaha enjoy tapi ngebuat aku bete, karena seolah hanya aku yang membutuhkan pertemuan itu. Enak ya, cuma jadi follower? Sedangkan aku harus mengaduk-aduk gelasku dengan sedotan, berusaha mencari topik pembicaraan. Aku sesekali menyedot manisnya milk guava untuk mencairkan keteganganku.

Adakah pertemuan  semanis ini selanjutnya?

Bantul, 22 April 2018—kamu semanis Milk Guava yang kuhabisi:p 
#wkwkwkwk


Rabu, 18 April 2018

Sebaik Apa Dirimu?



oleh : Nin Wahyuni

Aku selalu meminta pilihan terbaik,
Laki-laki sholeh, penyabar, penyayang, cerdas
Baik agamanya itu jadi kriteria pertama dan utama
Ngajinya ok
Kajian ilmu agamanya tak diragukan

Bahkan, aku yang seharusnya dipilih, ternyata pemilih juga
Hatiku condong pada yang sesuai kriteriaku
Dalam doa aku juga memohon yang terbaik untuk agamaku

Pertanyaan itu selanjutnya kulempar pada diriku,
“Memang, sebaik apa dirimu?”

Bantul, 19 April 2018 : Renungan

Senin, 09 April 2018

Memaknai Bahagia


oleh : Nin Wahyuni
Image result for gambar bahagia
google.com

Ukuran bahagia setiap orang pasti berbeda-beda.
Bagiku, bisa membuat orang tertawa, itu sudah membuatku  bahagia.
Bisa mengajar tanpa beban, itu kusebut bahagia.
Apalagi bisa membuat orang yang kusemogakan mencintaiku, itu kunamakan kebahagiaan.

Nah loh?
Yang paling penting adalah bagaimana kita bersyukur dengan nikmat Allah, seberapapun ukurannya.
Menjadi manusia paling bahagia adalah ketika hati selalu terpaut pada Allah.
Kan yang ngebuat hati gak bahagia itu diri sendiri? Kita biarkan hati galau sehingga menimbulkan resah, gelisah, wash-washah.

Allah akan selalu menambahkan nikmat-Nya ketika kita pandai bersyukur.

Seperti hari ini, aku bahagia dengan nikmat Allah.
Ada jerawat manis bertengger di daguku.hehe
Ketika kebanyakan orang bingung dengan “Jerawat”,
aku bahagia “Akhirnya aku punya jerawat”
Semoga rasa syukurku, tidak membuat Dia menambah jerawatku.

Memaknai bahagia.
Bahagiaku dan bahagiamu tentu berbeda.
Intinya, jangan lupa bersyukur.

___SEKIAN__
*** Bantul, 10 April 2018, Pagi-pagi pengen nulis aja.

Kamis, 29 Maret 2018

Pertemuan : Aita Coffee Longe Bantul



Aku takut. Takut kembali terjatuh dengan rasa sakit yang kubuat sendiri. Cinta selau datang secara tiba-tiba tanpa membuatku berfikir dulu. Semakin rasa itu aku kekang, semakin memenuhi pikiranku. Sosok itu hadir sungguh mengobati luka yang teramat dalam.

Aku belum pernah mengenal bahkan bertemupun belum pernah. Hanya sekali. Itupun aku tidak terlalu memperhatikan rupanya. Ganteng. Jelek. Lucu. Imut. Entahlah. Hanya saja sekali mata ini bertemu dengan pandangannya. Yang kurasakan kesejukan menyentuh hati. Ntahlah ini kejujuran atau hanya kekaguman semata.

Berkali-kali membawanya dalam doa-doa tanpa mau mengungkapkan apa yang terasa. Aku takut ini hanya ketergesa-gesaanku saja. Kejadian yang beberapa kali membuatku jatuh, sudah cukup membuatku menjaga hati. Jangan sampai sakit lagi.

Pertemuan di Aita Coffee Longe Bantul merupakan memorial yang tak terlupakan. Jika memang dia yang bertakdir denganku, semoga Allah ridho. Semoga Allah lancarkan segala prosesnya. Untuk saat ini aku belum bisa dengan sesuatu yang begitu cepat. Aku tidak tahu bagaimana mengenalnya lebih dekat, setidaknya dalam doaku, jika dia adalah pilihan-Nya, semoga tidak ada keraguan tentangnya.



Image result for gambar di Aita Coffe Bantul


#Bantul, 23 Maret 2018*Coretan Malam Ini*
#Late Post



Selasa, 20 Maret 2018

Dekapan-Mu





Disaat ingatan kembali menyakiti, satu hal, aku ingin kembali didekap.
Aku ingin kembali tenang dengan sujud-sujud panjangku diakhir rakaat.
Mungkin seperti saat ini.
Tiba-tiba hanyut kembali dalam sesal yang mendalam.
Bukan tentang siapa, tapi tentang apa yang telah kuperbuat.
Allah... malam-Mu terlalu singkat untuk sujudku.
Terlalu singkat untuk mengadukan dosa-dosaku.
Terlalu singkat untuk hening bersama-Mu.
Tolong, sembab wajahku tak boleh membersamai pagi dan aktivitasku.
Aku tak ingin orang melihatku penuh dengan dosa semalam.
Cukup, diriku dan diri-Mu yang tahu perihal yang tersimpan.
 Image result for gambar sujud di tengah malam
Dekapan-Mu.
Kekuatan tiada banding kala berkali harus terjatuh.
Kala badan kembali terkulai lemah tak kuasa dengan beban.
Siapa lagi yang mampu menolongku selain-Mu?
Jika yang kuyakini hanya Engkau Al-Qawiyyu, untuk menguatkanku.


Bantul, 21 Maret 2018

Sabtu, 17 Maret 2018

Untukmu yang Hampir Purna



Oleh : Nin Wahyuni
Image result for gambar hati yang sedang patah

Untukmu yang hampir purna, ini bukan sarkasme atau sindiran, tapi kuanggap sebagai teguran diri. Apapun yang menjadi kebersamaan antara kita, aku ingin berterimakasih untuk segala kesempatan yang pernah terluangkan untuk kisah lalu. Terimakasih untuk “patah hati” yang membuatku benar-benar jatuh, kemudian mampu menata hati menuju pendar Ilahi.
Dulu, janji membangun mahligai diatas janji suci begitu indah. Kini sudah hambar dan terbang terbawa pawana.
Dulu, kau kuatkan aku ketika berkali-kali tak bisa samakan prinsip.
Kini, kau yang pergi ketika aku belajar memahamimu.
Kamu yang ternyata tak bisa mencintaiku, sehingga lelah memperjuangkan kebersamaan.
Untukmu yang hampir purna, pelan-pelan aku melepaskanmu.
Berhenti peduli, berhenti mencari tahu tentangmu, berhenti meninggalkan jejak di status-statusmu. Aku memilih hening. Sehening doa-doaku diujung malam penuh ketenangan.  
Pun seperti yang kau bilang, tidak menemukanku dalam “Istikharahmu”, aku belajar menerima garis takdir-Nya. Segala penerimaan yang meninggalkan jejak paling dalam di relung hati.
Jiwaku patah. Jiwaku hampa. Aku protes dengan ketidakadilan Tuhan padaku. Sempat terfikir melawan takdir-Nya dengan mendoamu di waktu-waktu mustajab.
Aku menyerah. Aku lelah. Aku takkan bisa melawan kekuatan Sang Maha Dahsyat.
Allah lebih tahu perihal diriku.
Sekali lagi, aku berterimakasih padamu yang hampir purna. Aku sudah benar-benar menghentikan langkah memperjuangkanmu dalam doa-doaku.
“Patah Hati” yang kau beri telah memberi banyak arti dalam hidupku.
Aku belajar arti kehilangan untuk bersiap menyambut berlipat hadiah dari kesabaranku.
Allah tak pernah tidur. Dia semakin menunjukkan dirimu yang tidak selaras denganku.
Untukmu yang hampir purna, aku tak lagi menahanmu untuk semakin pergi, karena akupun tak peduli lagi dengan hadir maupun pergimu.
Allah, “Jangan larutkan aku dalam pilihan yang salah”.

Bantul, 17 Maret 2018~Renungan dalam dekap Malam

Senin, 04 September 2017

Akhlak Tak Selebar Khimarku



Oleh        : Nin Wahyuni


Image result for kartun muslimahHijrah…bukan hanya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, yaitu berproses. Proses sebuah perwujudan menjadi lebih baik, menjadi lebih makna menjalani kehidupan, juga segala hal yang mengarahkan pada kebaikan.
Akhlak tak selebar khimarku.
Ketika aku menuliskan judul tersebut, aku berulang kali merenung. Memang, perjalanan hijrahku telah membuat pakaian dan khimarku benar-benar berubah. Dari yang memakai rok di atas lutut, jeans pensil, baju tanpa lengan, baju ketat, dan lainnya yang jahil. Kemudian bertranformasi menjadi wanita berkhimar karena seringnya mengikuti pengajian, juga karena ketertarikan pada dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Yah, aku suka mendengarkan sesuatu yang baik. Perkataan yang baik. Walaupun belum tentu teraplikasi dalam kehidupanku, setidaknya aku tidak menolak orang menyampaikan kebaikan di telingaku . Lagi-lagi…aku hijrah. Menjadi ukhti dengan khimar lebar, dengan gamis yang menyentuh tanah, dan berkaos kaki.
Sekali lagi, akhlak tak selebar khimarku. Akhlak tak terpancar dari lebarnya khimar dan lebarnya pakaian yang dikenakan. Aku sadar itu. Untuk mendefinisikan akhlaq, aku harus kembali menyibak buku kuliah mengenai akhlaq. Bahwa akhlaq adalah budi pekerti, perangai, atau tabiat. Dan Rasulullah diutus Allah pertama kali untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
Mengapa akhlaq dan bukan yang lainnya?
Kembali kupahami, bahwa akhlaq sangat dibutuhkan karena untuk sebuah kedamaian dan keserasian. Akhlaq adalah fondasi menjadi manusia yang baik untuk mencapai derajat mulia disisi-Nya. Akhlaq tidak hanya mengatur tata aturan berhubugan dengan manusia, tetapi juga mengatur hubungan dengan Tuhannya, bahkan dengan alam semesta sekalipun—karena hidup butuh keharmonisan.
Akhlak tak selebar khimarku. Memang.
Butuh durasi waktu yang lebih panjang dan perenungan dalam untuk memaknainya, kemudian memakainya sebagai pakaian sebenarnya.
Jangan pernah menilai dari lebarnya khimar seseorang, karena khimar tak bisa disamakan dengan kadar akhlaq yang dimiliki seseorang. Setidaknya, dia sudah menunjukkan ketaatan pada Rabb-Nya—untuk menutup aurat.
Untuk yang membaca tulisanku, kuharap kalian mendoakan perbaikan akhlaqku ketika khimar tak bisa melindungiku dari berbuat kesalahan.

***Muhasabah Selepas Dinginnya Shubuh. Bantul, 4 September 2017***