Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2018

Mendefinisikan Rindu



Oleh : Nin Wahyuni


Mendefinisikan rindu.
Rindu adalah suatu perasaan yang timbul didalam hati. Perasaan yang dalam untuk bertemu, melihat, mendengar, dan merasakan detak jantung yang dirindui. Bisa juga diartikan sebagai perasaan menggebu dalam hati yang menimbulkan rasa gelisah. Terkadang menimbulkan tanya sepihak tentang orang yang dirindui. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Apakah orang yang dirindui juga merasakan rindu yang sama?” “Apakah orang yang dirindui berada satu frekuensi yang sama dengannya?” itu pertanyaan sulit ketika rindu tak terkata.

Perasaan rindu itu manusiawi. Setiap orang pasti merasakan rindu. Rindu orang tua, sahabat, teman, pasangan, atau bahkan rindu pada suatu keadaan tertentu yang kini tidak dirasakan lagi. Apapun itu, tetap rindu yang haqiqi adalah pada-Nya. Hanya pada-Nya sebenar rindu itu bermuara dan memberi kebahagiaan pada hati yang penuh tanya.

Mungkin rindu yang aku definisikan terlalu sempit untuk dipahami, setidaknya aku tahu harus kukemanakan rinduku ini, yaitu mengubahnya menjadi doa-doa pelan penuh harapan. Atau meminta-Nya untuk meredam semua harapan agar jika tak sesuai harapan, rindu itu takkan melukai pada akhirnya. Dari semua yang pernah kualami, ini saatnya aku belajar untuk tak lagi mendekte-Nya perihal apa yang aku semogakan--sekalipun rindu itu ingin sekali terbalas. 


Bantul, 12 Juni 2018__Malam Penuh Rindu


Sabtu, 26 Mei 2018

Menebus Waktu


Image result for coklat panas di cafe
Oleh : Nin Wahyuni

“Kamu butuh istirahat,” katamu tiba-tiba sambil memandangku lekat. Kemudian kembali menikmati kopi pekatmu yang panas.
“Lihat, betapa lelahnya dirimu,” katamu lagi sembari meletakkan kopi pekatmu. Beralih menatapku yang tak menanggapi celotehmu. Aku hanya tersenyum membalas tatapanmu. Tatapan yang tak pernah kulupakan seumur hidupku, sejak kali pertama kita bertemu. Kamu tak pernah berubah. Selalu hangat dan meneduhkan perasaanku.

Itulah sebabnya, aku selalu berkali-kali rela menjatuhkan diri dalam pelukan rindu. Merindukan pertemuan-pertemuan yang hangat seperti ini. Menikmati tatapan mesra dan baritone suaramu.

Aku selalu percaya bahwa dirimu yang mampu lengkapi rasa. Yang setiap bertemu selalu menyisakan gema  rindu di relung hati.
“Aku hanya ingin menebus waktu,” kataku sambil mengaduk-aduk secangkir coklat panas di hadapanku.
“Apa yang mau kamu tebus? Hingga rela mengorbankan waktu-waktu istirahat, juga pertemuan kita,” katamu meragu.
“Menebus semua kesepian dan ketakberdayaanku waktu itu. Aku yang rela mengorbankan semua untuk seseorang yang bahkan dia sedikitpun tak berhati padaku. Bahkan demi seseorang aku mengabaikan Dia yang sudah memberiku kehidupan sesempurna ini. Aku baru menemukannya. Menemukan kehidupanku yang benar-benar harus kuperjuangkan. Agar semua yang kujalani tidak hambar dan sia-sia, bukan?”
“Tapi, tidak perlu sekeras itu kamu memaksakan tubuhmu menebus semua yang pernah menjadi penyesalanmu,” katamu dengan wajah serius.
“Sebenarnya bukan pemaksaan atas apa yang sudah kulakukan. Hanya saja, kebahagiaan yang tak tampak ini, masih gagal membuat tubuhku beradaptasi. Yang perlu kaulihat adalah hatiku. Hatiku yang selalu bahagia karena sekalipun aku takkan bisa menebus waktu yang terlewatkan, setidaknya dilangkah baruku, aku bisa memperjuangkannya dengan lebih baik.” Aku terus meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja dengan kelelahanku saat ini. Satu hal yang ada pada dirimu, dan tidak ada pada diri lelaki manapun yang pernah kukenal—yaitu, kamu selalu ada, tak pernah jemu mendengar semua ceritaku.

Hening. Seketika hening menghabiskan sisa kopi pekatmu yang penuh filosofi kehidupan, juga coklat panasku yang selalu memberi kehangatan seperti cintamu.
“Apa lagi yang ingin kamu tebus setelah ini?” katamu kemudian.
“Berusaha menjadi Khadijah,” balasku cepat. Kemudian tertunduk menyimpan malu. Kamupun tersenyum.
“kenapa?” godamu.
“Khadijah adalah wanita sempurna. Sosok mulia yang begitu aku idolakan. Dia wanita penuh kasih sayang, kelembutan, dan cinta. Aku ingin seperti dirinya,” kataku melempar pandang kearahmu. Wajahmu masih saja teduh, sekalipun di luar hujan sedang turun dengan derasnya.
“Boleh aku menebus waktu bersamamu?” katamu yang menatapku penuh arti. Aku menunduk semakin dalam. Menyembunyikan mataku yang sudah berembun karena percakapan kita yang terlalu jauh.
“Kamu tidak perlu menjadi Khadijah karena rasa takutmu tentang banyak hal yang pernah kamu alami. Cukup menerimaku menjadi teman perjalanan yang membersamaimu. Saling melengkapi. Dan menembus waktu bersama agar di Syurga kita dipersatukan kembali,” katamu dengan begitu romantis. Tak kuasa air mataku berderai mengalahkan deras hujan di teras CafĂ©.

Bantul, 27 Mei 2018—Merindukan Hujan di Bantul—Terinspirasi dari Aita Coffee Long and Java Milk

Kamis, 03 Mei 2018

Senja



oleh : Nin Wahyuni

Inginku sederhana. Bersamamu. Hanya itu.

Bisakah kau mewujudkannya?

Atau terlalu muluk semua harapan itu? aku hanya ingin menikmati senja bersamamu. Menikmati arakan mega-mega di langit sana. Kemudian menyaksikan ke-Maha Besaran-Nya bersamamu dengan iringan doa-doa menjelang petang.

Kau tau, aku ingin menanti petang dan melihat Dia melukis langit-Nya dengan keindahan lain. Dengan pijar rembulan diantara bintang-bintang, misalnya.

Aku ingin tersadar bahwa, senja mengajarkan kehidupan yang begitu singkat. Jadi, bolehkah aku meminta membersamai senjamu bersamaku? Dan bisakah membawaku lebih abadi lagi? Kebersamaan hingga Syurga-Nya tentunya.


Bantul, 4 Mei 2018—Penikmat Senja

Rabu, 02 Mei 2018

Pertemuan-Pertemuan Indah


Oleh : Nin Wahyuni

Pertemuan adalah ketika engkau tak sengaja berjumpa seseorang di perjalanan, di toko buku, di rumah makan, atau di setiap sudut kota yang kau singgahi.

Pertemuan selalu indah karena kau bisa belajar banyak hal. Meski terkadang beberapa dilalui dengan pertengkaran kecil dengan orang-orang yang menyebalkan. Its all, ambil aja hikmahnya. Kau hanya perlu pusatkan pada prasangka baik, agar yang kau temui adalah kebaikan.

Jika kau bertanya mengapa harus ada pertemuan, kemudian ada perpisahan yang menyakitkan? Pusatkan pikiranmu untuk memandang ke langit luas, “Allah sudah mengatur hidupmu dengan begitu sempurna” kemudian tundukkan kepala dan katakan “Aku sungguh tidak tahu apa-apa perihal rencana-Nya”.

Terkadang kita hanya kurang bersyukur dan kurang bersabar menghadapi kehidupan ini. Jika kau tak bisa bersabar saat ini, apakah kau bisa bersabar dengan kehidupan dengan kelelahan abadi?

Seperti yang pernah kudengar dari seorang penceramah tersohor bahwa, “dunia ini ibarat gambar, sedangkan akhirat adalah aslinya”. Bisa dibayangkan, kan? Seindah apapun dunia ini, ya yang kita lihat hanya sebatas gambar. Lalu untuk apa terlalu bekerja keras di dunia hingga melupakan akhirat? Bukankah seluruh aktivitas kita di dunia hanya untuk menunggu waktu shalat?

Jangan terlalu lekat menyimpan dunia di hati, karena kau akan menjadi culas dan lupa diri. Tidakkah kau ingin dengan ‘pertemuan-pertemuan indah’? tak ingin kah bertemu dengan Rabbmu dengan keadaan memancarkan kebahagiaan?

Banyak orang salah jalan karena ketidakmampuannya menemukan arah. Atau mungkin, enggan berjalan pada roda kebenaran yang sedikit orang singgahi?

Sepertiny kita harus mendengar sepenggal pelajaran yang disampaikan Buya Hamka bahwa “Kita memang hanya akan dipertemukan, dengan apa-apa yang kita cari”.


Bantul, 2 mei 2018—Renungan—nasehat diri sendiri

Jumat, 20 April 2018

Resah


Image result for gambar resah hati
oleh: Nin Wahyuni

Resahkah yang membuatku sulit terpejam? Malam selalu mencekam setiap aku hendak pejamkan mata.

Siapa yang menjadi hantu sekarang? Masa lalu kah? Atau masa depanku kah?
Sepertinya aku harus kembali bertanya pada hatiku lagi.

Perihal masa lalu, aku sudah memaafkan diri sendiri. Tak lagi terbayang kesalahan yang membuatku sulit terpejam. Ya, sejak aku berani membagi bebanku.

Berarti perihal masa depan. Mungkin seperti itu lebih tepatnya. Berkali-kali aku berusaha mengusir kenyamanan yang ada padanya. Berkali-kali aku berusaha tidak menghubunginya atau hanya sekedar mengirim pesan ,”Hay”. Hanya saja satu kata darinya membuatku kembali ingin berlama-lama berbicara.

Aku takut semua kenyamanan itu hanya kembali menjadi kenangan. Kenangan yang berkali-kali harus menjadi hal yang melukai, seperti sebelumnya.
Malamku menjadi resah. Tentang rasa takut, gelisah, dan racun pikiran lainnya yang membuatku begitu mudah terbangun. Mendadak berbagai macam pikiran diluar fokusku berdatangan. Menjelma monster-monster menakutkan.

Resah.
Ingin kuusir resah yang tiap kali membrondong pikiranku. Setiap kali itu juga dia orang pertama yang aku hubungi. Hanya sekedar mengatakan “Aku mulai merasa takut”. Hanya berkali-kali juga pesan itu tak banyak sampai padanya.

Allah…bukan diri tak percaya takdir-Mu. Bukankah aku selalu mengadukannya pada-Mu? Disetiap hening malam ketika Engkau membangunkanku. Berkali-kali meminta hanya pilihan-Mu yang datang padaku.

Resah.
Aku begitu resah jika kembali terjatuh, dan aku lupa bagaimana bangkit. Aku masih begitu rapuh mempertahankan imanku. Aku tidak ingin dia yang kuanggap baik, menjadi sebab runtuhnya percayaku pada cinta-Mu—seperti sebelumnya.

Bantul, 20 April 2018—Menanti Hujan Reda

Jumat, 10 November 2017

Menjadi Guru Now untuk Siswa Now, Its My Challenge!


Image result for gambar guru hebat


Menjadi guru bagiku bukanlah hal yang masalah. Semua karena memang sudah cita-cita dan doa yang selalu terpanjatkan dari kedua orang tua. Bahkan menemui siswa yang “luar biasa” bukanlah hal baru. Apalagi, ditempatku mengajar siswanya kebanyakan adalah siswa-siswa yang”luar biasa”. Itu tidak masalah bagiku. Tapi, administrasi guru yang semakin ketat dan kompleks terkadang menjadi beban tersendiri (Aarrgghhh….curhatan guru baru yang sudah ditagih kelengkapan administrasi plus perangkat mengajar. hhe). Alhasil, administrasi dalam proses OTW yang entah kapan akan diselesaikan.
Tugas guru saat ini tidak hanya berada di kelas, tapi juga di luar kelas masih membawa seabreg tugas. Belum lagi kalau ada kegiatan lain di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang biasanya punya proker, contoh MGMP ISMUBA yang belum lama mengadakan Workshop, kepanitiaan UTS, dan Manasik Haji (kebetulan jadi sekum). Perjuangannya sungguh luar biasa. Harus pandai membagi waktu. Semua demi kemajuan dan pertumbuhan ISMUBA yang baik kedepannya.
Terlepas dari itu…ketika kembali ke sekolah harus kembali fokus dengan sajian yang ada di sekolah—anak-anak yang luar biasa, jadwal mengajar fullday, dan jika ada ekstrakurikuler, penuhlah tugas guru. Sedangkan, guru juga manusia sosial yang perlu untuk bergaul dan berkumpul dengan masyarakat. So, menjadi guru now itu sungguh tantangan yang luar biasa. Manajemen waktu kudu diperhatikan dan diatur sedemikian rupa agar tetap bisa bersosialisasi.
Kembali pada permasalahan awal. Tantangan guru di masa depan semakin kompleks. Ketika siswa sudah generasi 21, jangan sampai guru tidak beranjak dari tahun 90an atau bahkan lebih mundur lagi. Jadi apapun yang terjadi, guru harus selalu update informasi dan canggih teknologi. Guru juga tidak cukup hanya membuat siswa bisa CALISTUNG saja. Tapi harus bisa melampaui ketiga hal tersebut. Seperti azaz dasar mengajar yang diajarkan Bobby DePorter bahwa Masuklah kedunia mereka dan bawalah mereka keduniamu. Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan Pak atau Bu Bobby yang saya tidak terlalu memperhatikan jenis kelaminnya (intermezzo.hhh). Intinya, kita perlahan seolah melibatkan diri dalam kehidupan mereka. Menyentuh kehidupan mereka dan memperoleh izin memimpin adalah hal terbesar dan berharga yang tak boleh disia-siakan sedikitpun. Setelah itu, bawalah mereka ke duniamu dan masa depannya yang penuh dengan tantangan. Bangunkan. Sadarkan. Bahwa, kehidupan dimasa depan tak pernah bisa diprediksi. Ketika generasi tidak bisa survive, yang ada hanyalah menjadi kapas yang terbang tanpa arah. Mudah kabur kesana kemari tanpa tahu harus berbuat apa selain putus asa dan menyerah.
Its Challenge! Bahwa tidak mudah menjadi guru. Ibarat petani, jika salah perhitungan dalam menanam palawija atau biji-bijian lain, yang ada hanyalah diserang hama. Jika perhitungan matang dan perawatan tanaman diperhatikan dengan pemberian pupuk dan penyemprotan hama, hasilnya rata-rata baik. Hasil panen bisa melimpah dan memberikan keuntungan bagi petani dan konsumen yang bergantung hidup dengan petani. Meski untuk melakukan semua itu, pastilah ada perjuangan berupa kesabaran dan keikhlasan dalam kurun waktu yang tak sebentar. Jika itu murid, ibarat kita sedang menanam biji dan berusaha menumbuhkannya dengan siraman ilmu yang setiap hari dibubuhkan. Perlu adanya kesabaran dan keikhlasan untuk melakukannya. Karena, keberhasilan seorang guru adalah ketika melihat biji yang ditanam dan dirawatnya akan tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat. Setidaknya, harapan sederhana seorang guru adalah, biji yang ditanamnya bisa survive menghadapi pergantian musim yang tidak menentu. Seperti halnya siswa yang suatu saat terjun kedunia nyata, mereka bisa survive dengan perubahan dengan siklus cepat. Perihal menjadi apa dan siapa adalah urusan dia dan Dia.
Menjadi guru now untuk siswa now? Its Challenge! Meskipun yang kulakukan belumlah sehebat itu, setidaknya aku berusaha belajar untuk memperbaiki diri dan mencoba menjadi teman terbaik untuk siswaku. Menjadi teman berbagi keluh kesah mereka, dan sedikit demi sedikit membawa mereka ke duniaku  dan dunia masa depan. Allahu’alam.

***Bantul, 10 November 2017—Hari Pahlawan—semangat berjuang guru-guru hebat





Selasa, 04 Oktober 2016

Pada Sebaris Rindu


Kusadari tapak langkah ini kian jauh
Umur ini semakin menghabiskan jatah napas
Kian detik mendekati masa rehat dari fana
Yang entah kapan menjangkau raga

Kusadari tak banyak kebaikan yang kukumpulkan
Tak banyak tabungan dalam kotak amal untuk bekalku nanti

Aku tahu, perjalanan setelah fana adalah keabadian
Perjalanan panjang yang melelahkan jika tak cukup bekal
Perjalanan bersua dengan sintesa jiwa

Wahai pemilik jiwaku dan penggenggam semesta,
Layakkah diri berlumur dosa ini mencium bau jannah-Mu?
Mengucap salam untuk kekasih-Mu?
Bershalawat untuknya, juga berdiri pada barisannya?

Aku tahu, diri ini penuh dengan kealpaan
Penuh dengan kerikil-kerikil dosa yang mengiringi perjalananku
Dan terkumpul menjadi gunung dosa yang menjulang

Masihkah pantas meminta ampunmu yang seluas lautan, selebar langit di angkasa?
Sedangkan kesalahan demi kesalahan terus terulang
Masihkah pena malaikatmu menulis segala kebaikan dari niatku?
Sedangkan aku kadang tak sanggup melakukannya

Pada perenungan di malam yang hening,
Pada kesadaran yang tertumpah dalam sujud,
Ingatkan aku pada sebaris rindu
Rindu terbaikku pada-Mu

Ku ingin mengulang sebaris rinduku pada-Mu, dengan rindu terbaikku

Jumat, 01 Juli 2016

Wanita: What Do You Think?



Hasil gambar untuk gambar wanita sholehah
Terkadang kita harus kembali menengok sejarah, dimana masa sebelum Islam datang. Zaman jahiliyah. Kesewenang-wenangan terhadap makhluk bernama  wanita. Dimana derajat wanita sangat direndahkan. Sedikit yang dapat saya ingat mengenai wanita di buku “Yuk Berhijab” Ustadz Felix Siauw, beliau menuliskan mengenai wanita pra Islam. Wanita dijadikan pemuas nafsu birahi. Wanita diperjual belikan ibarat dagangan. Bahkan di Jazirah Arab, bagi anak perempuan yang lahir ia akan di kubur hidup-hidup. Atau di India yang lebih tidak manusiawi, yaitu ketika suaminya meninggal, maka perempuan(istri) tidak layak hidup lagi sepeninggal suaminya. Atau, ada cerita lain lagi mengenai wanita?
Hingga di utuslah Muhammad SAW untuk meluruskan agama Islam yang dibawa oleh Ibrahim a.s. Satu-satunya agama yang menghargai wanita. Seperti yang termaktub dalam  QS. Al-Nisa’ yang berarti wanita. Betapa mulianya wanita ketika Islam datang di tengah-tengah manusia. Bahkan wanita menjadi satu diantara banyak keberhasilan laki-laki. Mungkin kita pernah mendengar semacam pepatah atau hanya kata-kata mutiara yang berbunyi, “Di balik laki-laki hebat, ada wanita di belakangnya”. Kurang lebih seperti itulah.
Berikut adalah sekilas kisah romantis antara Rasulullah Muhammad dan Khadijah.
Khadijah adalah orang yang pertama kali bersaksi atas kerasulan Muhammad Saw., yang tidak lain suaminya sendiri. Dengan kekayaan yang dimiliki, Khadijah membantu setiap perjuangan Rasul. Dan dari rahimnyalah Muhammad mendapat keturunan( Rachman, 2015:16).

Khadijah, ia seorang istri yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Saw., suami yang dicintainya, untuk menolong, menguatkan, dan membantu sehingga dengannya Allah meringankan beban Nabi. Tidaklah Rasul mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan, yang membuat beliau sedih, kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya ketika beliau kembali ke rumahnya( Rachman, 2015:16).

Tidak hanya itu, tetapi ada Asma' binti Abu Bakar yang turut menoreh tinta emas dalam perjuangan Nabi, yaitu ia ikut menyertai Nabi Muhammad Saw dalam perang Yarmuk  dan berperang layaknya pejuang. Itulah sekelumit perjuangan wanita yang menorehkan sejarah indah peradaban Islam. Dan masih banyak lagi kisah-kisah wanita pejuang yang turut andil dalam kejayaan Islam.
Wanita adalah tiang Negara. Jika ingin menegakkan Negara, lindungilah wanita; dan jika ingin menghancurkan Negara, hinakanlah dia( Rachman, 2015:14).

Betapa pentingnya memuliakan makhluk bernama wanita. Karena dari rahim seorang wanita itulah akan lahir generasi-generasi penerus yang akan melanjutkan estafet pembangun peradaban Bangsa.
Wanita menduduki garda terdepan dalam perjuangan. Bahkan Nabi Saw pernah ditanya siapa yang paling berhak dihormati , diantaranya ayah dan ibu, beliau menjawab, “Ibumu”, hingga tiga kali, kemudian “Ayahmu”.
Wahai wanita, what do you think about us? Betapa Islam telah memuliakan kita. Meninggikan derajat kita. Bahkan ada dalam surat Al-Qur’an yang mengkhususkan untuk kita, yang artinya “Wanita” yaitu QS. Al-Nisa’. Betapa Rasulullah Sang pembawa cahaya telah menjadikan kita mulia. Tapi, sudahkah kita menghargai diri kita sendiri?
Sudahkah hijab menjadi kain wajib yang kita kenakan? Sudahkah air wudhu menjadi penghias wajah kita? Sudahkan dzikir menjadi penyejuk bibir kita? Sudahkah mata digunakan untuk melihat ciptaan-Nya? Sudahkah telinga digunakan untuk mendengar firman-Nya? Sudahkah… semua anggota tubuh kita digunakan untuk beribadah pada-Nya?
Tetapi, kebanyakan kita masih belum juga tersadar akan fitrah yang seharusnya kita jaga. Kita adalah seindah-indah hiasan dunia. Fitrah kita adalah menjadi wanita Sholehah. Bukan menjadi fitnah.
***
Wanita adalah makhluk yang diciptakan dengan begitu indahnya oleh Allah. Dengan segala keindahan dan daya tariknya. Itulah mengapa wanita harus pandai menjaga diri dari segala gangguan.
Biarlah dibilang kuno, norak, ketinggalan zaman karena tidak mengikuti perkembangan zaman. Tapi, izzah dan iffah seorang wanita harus tetap terjaga. Satu hal yang harus kaum wanita camkan, “ Masa depan lelaki tak dinilai dari masalalunya, sedang wanita kebalikannya. Wanita dipilih karena masa lalunya”. Jika saat ini kehormatan seorang wanita telah diberikan pada laki-laki yang bukan suaminya, lalu apakah yang akan diberikan pada suaminya kelak? Jika laki-laki, asal dia memiliki masa depan yang baik, siapa yang akan mempermasalahkan masa lalunya? Coba renungkan lagi, wahai wanita. Kita adalah tiang. Kita adalah penggemilang peradaban. Jangan sampai menyesal dikemudian hari karena kealpaan menjaga diri.
Betapa berharganya diri kita wahai wanita, wahai muslimah.
Biarlah hanya laki-laki sejati yang berani mendatangi wali yang memilikimu. Bukan yang banyak janji dan yang berkata tak pasti.
***
Ref.
Rachman, Fauzi. Wanita Yang di Rindukan Syurga: Beribadah tanpa Lelah. 2015. Bandung: Mizania

Minggu, 24 April 2016

Pada Hari Ini



Setiap hari adalah lembar hari yang baru. Selalu ada cerita baru. Pun akan dengan nafas yang baru pula. Setiap nafas yang terhirup, sesungguhnya ada misi yang harus diselesaikan. Seperti membahagiakan orang-orang disekeliling kita. Berikan arti untuk setiap nafas yang dititipkan pada kita.  
Kesedihan boleh-boleh saja ditangisi, tapi harus diingat bahwa setiap kesedihan selalu beriring dengan bahagia. Hanya membuat orang disekitar kita tersenyumpun, kita sudah memberikan arti pada nafas.
Jangan pernah merasa sakit hati ketika banyak yang menggores luka di hati. Bukankah manusia tempat lupa dan berbuat salah? Ingat, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan Rosul sekalipun dia pernah melakukan kesalahan, seperti teguran Allah dalam surat ‘Abasa yang memperingatkan Muhammad ketika bermuka masam melihat orang buta yang datang.
Teruslah tebarkan senyummu. Sembunyikan semua kesedihan yang ada di hati. Yakinlah semua akan berakhir dengan sendirinya. Seperti roda yang selalu berputar dengan kehendak Allah.
Hargai arti nafas yang masih bisa kita hembuskan. Mungkin saja hari ini nafas itu berhenti. Atau besok, atau lusa. Atau…10, bahkan 100 tahun lagi. Kita tidak pernah tau. Selama masih bisa bernafas, itu artinya masih banyak kebaikan yang harus kita lakukan.
Memang, tak semua orang dapat menerima kebaikan kita. Tapi, apalah arti penilaian manusia dibanding penilaian Allah. Tetap jaga semangatmu, teruslah tersenyum untuk lukamu, dan bersemangatlah untuk hari esok. Semoga Allah masih berkenan menitipkan kebaikan untuk kita tebarkan.
Berterimakasihlah pada orang-orang yang pernah atau selalu menggores dan menggiris luka di hatimu. Dia adalah orang baik yang sebenarnya selalu mengingatkanmu untuk dekat dengan-Nya. Dia yang menjadikanmu bersemangat untuk berdekatan dengan-Nya. Juga yang membuatmu menangis agar bakteri yang ada di mata dapat dibersihkan dengan air mata, agar hatimu pun ikut bersih.
Pada hari ini, selamat datang luka dan selamat datang kebahagiaan yang sudah menanti.
Walahu’alam bis shawab