Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2018

Aksara Rasa



Oleh        : Nin Wahyuni

Cinta terindah adalah ketika hati hanya terlabuh pada-Nya
Tergetar indah melalui aksara kalam-Nya
Rasa melalui aksara yang terbingkai indah dalam maghligai ketaatan
Pada jiwa yang merindui keshalihan
Begitulah sebenar cinta yang hakiki
Mencintai dengan jalan kesucian

Aksara rasa yang membuih kemuliaan
Mendamai hati yang terbuai rindu
Ya, serindu ini aku padamu yang jauh disana
Merapalmu dalam setiap doa-doa heningku

Mendoa di hening malam,
Agar doa cepat melesat tepat padamu
Agar aksara rasa ini terwujud dalam janji kesucian
Yang terucap indah ketika akad

Bantul, 30 Maret 2018



Rabu, 07 Desember 2016

Untukmu Ibu: Kasih Tak Kenal Usai


Hari ini hujan berjatuhan, tanda Tuhan melimpahkan rahmat-Nya
Hari dimana aku ingin merapal doa untuk orang terkasihku.
Malaikat yang dikirim Tuhan untuk melahirkanku, merawatku, dan membimbingku mengenal-Nya.

 Kasih tak kenal usai.
Jiwa raga, seluruh waktu, dan seluruh hidupnya telah ia berikan untukku. Yang tersisa hanyalah wajah lelah yang kulihat kala lelapnya.

Kasih tak kenal usai.
Setetes darah yang tak pernah tergantikan, demi menghadirkanku melihat indahnya dunia. Merasakan segarnya udara pagi. Juga, indahnya cahaya iman yang kini memenuhi ruang gelap hatiku.

Kusebut engkau Ibu.
Malaikat bercahaya dengan sayap tak terlihat. Memelukku kala dingin. Melindungiku kala terik. Juga menjagaku dalam doamu usai sholat. Dalam sujud panjangmu dan air mata yang tak pernah terlihat olehku. Tapi, aku percaya dalam setiap tangkup tanganmu menengadah tak pernah lupakan namaku. Tak pernah jarimu tak basah oleh air mata.

Ibu…
Jika tak sadar lidah ini menggores hatimu, menyakitimu, mengecewakanmu, maafkanlah.
Jika tak sadar lidah ini mengomel, membentak, atau berkata ahh, maafkanlah.
Jika tak sadar telinga ini pura-pura tak mendengar perintahmu, maafkanlah.
Jika tak sengaja hati ini kesal dan marah, ampunilah.

Ibu…
 Sungguh, seberapapun aku berjuang mengembalikan seluruh hutang budiku, aku takkan sanggup. Setetes darahmu pun takkan bisa kugantikan.

Ibu…
Ajarkanku setegar dirimu. Sekuat bahumu yang menopang tubuhku kala kecil.
Ajarkanku tetap tersenyum tanpa keluah kesah, walau lelah.
Ajarkan aku agar secerdas dirimu untuk mendidik anak-anakku.

Ibu…
Kenalkan aku menjadi sosok penuh kasih tanpa lelah. Sepertimu…



***Bantul, 7 Desember 2016—disaat lelahnya skripsi, ingat ibu di rumah***

Selasa, 04 Oktober 2016

Kutitip Rahasia


Wahai shubuh, dengan segala kesejukannya,
Kutitip rahasia sehat dan rezekiku,
Tutup rapat dengan embun sejukmu dari pandangan mataku
Biarlah kujalani pagi dengan rasa syukurku
Agar aku menghargai sehat dan rezeki yang kuperoleh

Wahai dhuhur, dengan sengat surya yang terang terpancar,
Kutitip rahasia keberhasilanku dan kesuksesanku
Tutup rapat dengan bakar semangat suryamu
Biarlah aku berjuang dengan segala dayaku
Agar diri merasakan lelahnya perjuangan
Agar diri tak melupakan kerasnya batu yang terus menghantam
Agar diri menghargai setiap proses keberhasilan dan kesuksesan

Wahai ‘Asar, dengan matahari keorenannya
Kutitip rahasia di penghujung waktuku
Tutup rapat dengan firman-Nya
Bahwa sungguhnya manusia dalam keadaan merugi (QS. Al-‘Asr)
Agar setiap waktu tertapak dengan rencana
Agar diri enggan berlaku aniaya
Agar langkah tak lepas dari petunjuk-Nya

Wahai Maghrib, dengan rona jingga,
Yang sepenggal naik cahayanya, kemudian tenggelam tertelan bumi
Kutitip rahasia nafas ini
Tutup rapat dengan malam yang mulai berkabut
Agar diri tak lupa bersiap dengan bekal perjalanan malam
Agar diri tak menyiakan kesebentaran kedatanganmu

Wahai Isya’, dengan kepekatan yang penuh misteri,
Kutitip rahasia pagi jika masih kutemui esok,
Tutup rapat dengan segala keindahan yang kau tawarkan melalui jendela langit
Biarkan aku beristirahat dengan sejenak
Menikmati setiap pernik yang tergantung di atas sana
Bercengkrama dengan rembulan malam
Berkejaran dengan gemintang merajut asa
Atau menghitung napas yang kian kikis

Aku titip rahasia,
Pada apapun, pada siapapun yang tahu renik kehidupanku
Seperti kutitipkan rahasia pada lima waktuku


Bantul, 5 Oktober 2016, disela waktu PPL di SMK 1 Muhammadiyah Bantul

Minggu, 03 April 2016

Kusambut Engkau

Hasil gambar untuk ramadhan
Kau kembali datang
Kau kembali menyapa dengan segala keindahan
Kau penebar cinta
Penyembuh segala luka

Izinkan diri ini kembali menggenggammu
Izinkan tangan penuh dosa ini meminta berkah cintamu

Mata ini sudah lama kering tak bisa meneteskan bulir
Hati ini sudah lama kemarau
Mulut ini sudah menumpuk perkataan dusta
Kaki ini sudah kaku berjalan pada jamaah

Tapi…jiwa meronta kesembuhan
Kusambut engkau,
Dengan terbata, kuucap “Ramadhan, sisihkan ruang taubat untukku”


Bantul, 2 April 2016

Minggu, 06 Maret 2016

Sang Penggenggam

Hasil gambar untuk ilustrasi genggaman Allah
Sungguh, hati ini adalah cermin yang retak
Tak utuh dengan kesadaran iman yang kuat
Sungguh, jiwa ini rapuh merepuh
Tak tegak tanpa sandaran
Sungguh, raga ini layaknya debu
Beterbangan tanpa arah dan tujuan

Wahai Sang Penggenggam,
Luruhku bersimpuh dengan kedua kakiku bertekuk
Tanganku yang gemetar menengadah
Bibirku yang terbata mengeja kalimat taubat
Mata yang terus mengalirkan butiran cair rasa takut dan penyesalan
Juga tunduk hatiku dengan seluruh kepasrahanku
Genggam aku, jiwaku, ragaku, juga hatiku

Wahai Sang Penggenggam,
Cahaya-Mu sungguh terang, menakjubkan
Izinkan hati ini mendekat
Merasakan hangatnya pancaran-Mu
Merasakan keteduhan kasih-Mu

Wahai Sang Penggenggam,
Kau yang memiliki kegelapan abadi, juga pemilik kesepian
Izinkan diri ini berjalan pada keduanya
Merasakan nikmatnya gelap, untuk bermunajat pada-Mu
Merasakan sepi, untuk merenungi kesagala kealpaanku pada-Mu

Wahai Sang Penggenggam,
Bawalah aku pada nikmatnya lautan rahmat-Mu
Panjangkan sujudku

Deraskan air mataku

~~Bantul, 7 Maret 2016, Mahabbah Al-Ulla

Kamis, 20 Agustus 2015

Aku Ingin Menemukan-Mu


Hidup tak seindah film-film di Televisi, yang penuh kebohongan
Hidup layaknya sebuah kapal yang berlayar,
Terkadang terombang ambing di tengah samudra, terkadang tenang, terkadang pula terdampar, dan karam di tengah ganasnya samudra
Dan aku, sudah mengarungi luasnya samudra kehidupan ini
Mengarungi tanpa kutahu arah dan tujuan bidukku berlayar
Tak tahu kayuhan sampanku kuarahkan kemana

Dengan ketidakmampuanku membaca arah, aku tak tahu tanda bahaya
Jalan dipenuhi kegelapan dan badai yang membahayakan hidupku
Aku terus berlayar, berlayar, dan berlayar
Berharap kutemui cahaya yang akan menuntun langkahku
Namun aku telah jauh tersesat, tak tahu jalan untuk kembali

Tak ada yang mendengar tangisku di tengah kepungan gelap
Tak ada yang merengkuhku dalam ketakutan
Aku sendiri, disini
Kulihat tak ada kehidupan disini
Hanyalah kebinasaan yang terlihat olehku
Dan aku, jatuh dalam kehinaan

Aku telah jauh berlayar, hingga tak tahu jalan kembali
Tak satupun kutemui teman
Aku sendiri mengarungi luasnya samudra ini
Untuk mencari arti sebuah kehidupan

Satu harapan tersisa dalam resahku,
Aku ingin menemukan-Mu…

Rabu, 24 Juni 2015

Negeri Impian



oleh: Nin Wahyuni


Terlambung angan sesaat
Ketika semilir merasuk jiwa
Tertinggal penat dari riuh bisingnya kereta
Terbesit rasa hendak terbawa
Pada negeri impian masa depan
Negeri penuh impian tiada dusta, tiada nestapa
Negeri aman penuh sentosa
Dimana kelaparan tak mencekik rakyat kecil
Dimana suara kecil ditinggikan
Dimana tangan-tangan rendah digapai sejajar
Hukum tak lagi seperti pedang terbalik
Tumpul diatas, tajam dibawah
Yang menikam sadis rakyat kecil
Hukum bukanlah dagangan yang bisa diperjual belikan
Karena tak semua mampu membeli
Hukum bukanlah menentukan siapa yang kuat dan siapa yang lemah
namun menjunjung tinggi kepatuhan kepada Tuhan akan kebenaran dan keadilan