Oleh :Nin Wahyuni
Paparan surya tak mampu lagi
menghangatkan dinginnya jiwa. Karena malam telah menutup sinarnya. Dalam malam
yang ditemani semilir angin yang mengusik jiwa, aku kembali terpekur dalam
lamunan. Entah apa yang ingin kusemai malam ini. Bagiku, semua telah berakhir
sejak luka itu tertoreh di sudut hatiku. Tidak! Aku tak pernah mengakhirinya.
Hanya saja aku ingin berdiam diri membelai malam-malam sunyi untuk belajar
memaafkanmu dan… ahh rasa itu masih saja membekaskan luka. Tapi biarlah aku bak
kemerlip bintang yang berbaur di tengah bebintang yang bersinar. Kau takkan
bisa menemukanku di tebaran angkasa yang luas, tapi aku selalu bisa menemukanmu
dimanapun sembunyimu. Bukan! Aku bukanlah jin, setan, atau malaikat, bahkan
Tuhan sekalipun. Aku hanya manusia biasa yang selalu menyambutmu istimewa di
hatiku, hingga rasa ini selalu mampu menemukanmu. Dimanapun.
Mungkin saja kau mulai pudarkan
rasamu padaku, ketika kau merasa lelah untuk terus mencariku, tapi aku tetap
disini. Menantimu. Entah, apakah ini akan berakhir sia-sia atau berakhir dengan
tangis bahagiaku yang pecah dengan uluran tanganmu? Aku tak tahu. Hanya saja
rasa itu terkadang terus menarik-narik ke hulu hatiku. Sejenak lepas dari
bayangmu aku tak bisa. Kau telah duduk di singgasana hatiku yang kian rapuh
karena kau tak jua menemukanku.
Mungkinkah kekuatan yang kian
kikis ini mampu membuatku bertahan? Terpaan demi terpaan kian lantang
menerbangkanku. Tapi aku, tetap disini untuk sebuah kepastian darimu. Karena
Allah-ku, masih sudi menjagakan rasa ini untuk tetap utuh untukmu, sampai kau
hadir dihadapanku memberi keputusan.
Doaku masih terpanjat untukmu.
Selalu.
Sudikah kiranya kau selipkan
pula namaku disela untaian doamu? Biarkan kita bertemu dipenghujung rindu atas karunia-Nya.
Jika itu terlalu berlebihan, biarlah kusimpan saja rasa yang terus menggebu di
dasar hati ini. Biar hanya aku dan Allah yang tahu tentang rangkaian kisah ini.
Jika malampun tak mampu
membelaimu dengan mesra, biarkan dingin menghimpun tidurmu, untuk bertemu rindu
bersamaku.
Rindu…itu satu kata yang selalu
terucap di benak hati yang tak pernah berbohong. Untuk dirimu yang kurindu,
kubiarkan penantian ini menjadi indah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar