Senin, 29 Juni 2015

Cinta dalam Desir Pasir



Oleh: Nin Wahyuni

Sorot retinaku menangkap sosok wanita renta itu. Entah, sudah berapa waktu sosok itu menjadi pusat perhatianku. Setiap ia lelah, akulah tempat yang ditujunya. Akulah tempat berbagi segala lelahnya. Waktu istirahatnya ia isi dengan lantunan dzikir—melarutkan diri untuk berdiskusi dengan Tuhan. Menyatukan diri dengan alam. Pejam mata dalam khusyuknya menyembulkan bulir-bulir airmata. Hingga ia tertidur lelap melepas letihnya.
“Marni, bangun!” teriak salah satu rekannya. Wanita yang dipanggil Marni itu tergagap, bergegas membenahi kerudung yang miring. Mereka berdua berlari menuju gundukan pasir itu. Aku melihat setiap gerik lincah Marni mengangkut dan mendorong gerobak pasir itu. Wajah ayu yang kian gosong tersengat surya, tak membuat kekagumanku pudar padanya. Dia tetap wanita hebat yang kukenal 30 puluh tahun lalu, menurut hitungan yang kuingat.
Aku adalah saksi dimana setiap detail fisiknya berubah. Ia bekerja disini sejak remaja, hingga kini sudah menikah dan memiliki seorang anak. Marni tetap setia dan bertahan menghabiskan senja bersama gundukan pasir itu—mengangkut desir-desir pasir—demi lembaran penghimpun harapan.
Entah kekuatan apa yang membuatnya keras kepala untuk tak berhenti melakukan pekerjaan berat itu.
“Kalau dulu aku menjadi tulang punggung keluarga karena kedua orangtuaku yang sudah sakit-sakitan, kini aku mengabdikan diriku untuk masa depan anakku,” jawabnya setiap terlontar pertanyaan dari rekannya.
“Marni, tapi kamu perempuan, tak seharusnya kamu mengambil pekerjaan ini,” tukas laki-laki jangkung tempo hari. Lagi-lagi Marni hanya terkekeh. Wanita itu seolah tanpa beban mengangkut pasir-pasir menuju truk-truk pengangkut pasir. Jalan terjal nan tajam berbatu tak menyurutkan langkahnya.
Baginya, setiap desir pasir adalah senandung harapan. Pasir telah memberinya lembar-lembar rupiah untuk anak semata wayangnya, yang sedang mengenyam pendidikan Dokter. Arsya…Arsya…dan selalu Arsya yang selalu ada dalam pikirannya. Ia tak lagi memikirkan tubuhnya yang semakin menua, dan kehilangan kejelitaannya. Seluruh hidupnya ia abdikan untuk anaknya, Arsya. Ia bekerja terlalu keras untuk mengumpulkan rupiah yang tak sedikit, dalam ukuran orang sepertinya—yang hidup dalam segala keterbatasan, sejak suaminya lumpuh karena kecelakaan. Itulah alasan Arsya mengenyam pendidikan Dokter, yang membuat Marni bangga padanya.
***
Mataku terus mancari sosok yang selalu kunanti. Satu jam, dua jam, hingga menjelang senja, tak kulihat batang hidungnya. Jiwaku resah tanpanya.
“Marni, dimana dirimu berada?” kataku tertunduk lesu. Angin terus menghiburku membisik penuh ketenangan. Ahh, itu tak bisa mengusir rasa khawatirku pada wanita itu.
“Wan, dengar-dengar Arsya anak si Marni kemarin pulang, ya?” kata seorang laki-laki kepada rekannya. Kupasang telinga lekat-lekat untuk mencuri pembicaraan mereka.
“Iya. Tapi kasihan, Yon,” jawab rekannya. Aku yang sejak tadi berdiri dekat mereka, semakin serius mendengarkan percakapan mereka.
“Loh, kasihan kenapa, Wan? Kan anaknya sudah lulus dari pendidikan Dokter?” katanya pada Wawan. Wawan menghela nafas sejenak kemudian tertunduk. Pita suaranya berat mengeluarkan suara.
“Arsya…dia memang sudah pulang, tapi sudah tak bernyawa,” jawabnya lesu. “Arsya overdosis saat mengkonsumsi obat tidur,” lanjutnya. Kemudian semua diam, membisu dengan pikiran-pikiran yang tak mampu kuterjemahkan. Aku semakin menunduk lesu. “Marni, kini aku tahu alasan mengapa kamu menghilang,” desahku pelan.
***
Satu bulan telah berlalu. Mataku terus mencari sosok Marni yang tak kunjung datang. Ia bak tertelan bumi. Tak ada simpang siur kabar tentangnya, sejak kepergian Arsya.
Senja semakin tenggelam, merabunkan penglihatanku. Dari arah tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat bayangan hitam menghampiriku. Aku terus menerka-nerka, hingga bayangan itu jelas terlihat oleh mataku. “Marni!” pekikku. Ia hanya diam bersandar di bahuku. Ingin rasanya kurengkuh tubuhnya untuk kupeluk, namun aku tak sanggup. Aku hanya mampu melihat dan mendengar segala kesahnya.
“Anak yang selalu kubanggakan dan kunanti kepulangannya, kini telah mengakhiri hidupnya dengan kesia-siaan. Aku tak pernah meminta gelar dan pangkat darinya. Aku hanya ingin selalu bersamanya ketika renta semakin menjangkiti tubuhku,” celotehnya malam itu. Sinar bulan tak nampak malam itu, seakan membiarkan Marni menghabiskan sisa-sisa kesedihannya bersama hening—bersamaku, hembus angin, dan mendung.
Kurasakan apa yang menjadi kesedihan Marni. Kucoba menghibur dengan senandung bisuku.
“Marni!” teriakku kemudian. Ia begitu kencang memegang akar-akar yang menjuntai dari dahanku. Ia tarik akar yang paling kuat, kemudian dililitkan pada lehernya. Dengan kepasrahannya, ia menjatuhkan tubuhnya ke bumi.
“Marni, tolong dengarkan aku, jangan lakukan hal bodoh ini!” teriakku pada tubuh yang semakin lemas. Tajam matanya memandangku dengan kepiluan, yang membuatku semakin teriris perih. Getah merah terus mengalir melalui akar-akar yang terluka—oleh tarikan tangan Marni. Kugoyangkan seluruh dahanku hingga akar-akar yang melingkar pada lehernya terputus. Ia tersungkur dalam pelukanku. “Marni, dengarlah aku. Terlalu bodoh dengan apa yang kau lakukan.” Sekali lagi kubisikkan di telinganya, “Dengarlah Marni bahwa suamimu menunggumu, Arsya membutuhkan doamu, aku pun membutuhkan senandung dzikirmu untuk membasahi jiwaku, bahkan desir pasir membutuhkanmu untuk kau angkut ke tempat tujuan. Marni kau terlalu berharga.”
Air mata deras mengalir di pipinya. Kujuntai akar-akarku untuk merengkuhnya—memeluknya dalam dingin malam.

      “Marni, kami—aku, suamimu, arsya, dan desir pasir mengharapkanmu…”
***
      ***Cerpen ini diikutkan dalam lomba menulis dengan tema “unconditional love” di Mazaya Publishing pada tanggal 4 juni 2015. Cerpen ini juga sudah mengalami editing sebelum dishare ke blog.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar