Oleh: Nin Wahyuni
Sorot retinaku menangkap sosok
wanita renta itu. Entah, sudah berapa waktu sosok itu menjadi pusat
perhatianku. Setiap ia lelah, akulah tempat yang ditujunya. Akulah tempat
berbagi segala lelahnya. Waktu istirahatnya ia isi dengan lantunan dzikir—melarutkan
diri untuk berdiskusi dengan Tuhan. Menyatukan diri dengan alam. Pejam mata
dalam khusyuknya menyembulkan bulir-bulir airmata. Hingga ia tertidur lelap
melepas letihnya.
“Marni, bangun!” teriak salah
satu rekannya. Wanita yang dipanggil Marni itu tergagap, bergegas membenahi
kerudung yang miring. Mereka berdua berlari menuju gundukan pasir itu. Aku
melihat setiap gerik lincah Marni mengangkut dan mendorong gerobak pasir itu.
Wajah ayu yang kian gosong tersengat surya, tak membuat kekagumanku pudar
padanya. Dia tetap wanita hebat yang kukenal 30 puluh tahun lalu, menurut
hitungan yang kuingat.
Aku adalah saksi dimana setiap
detail fisiknya berubah. Ia bekerja disini sejak remaja, hingga kini sudah
menikah dan memiliki seorang anak. Marni tetap setia dan bertahan menghabiskan
senja bersama gundukan pasir itu—mengangkut desir-desir pasir—demi lembaran
penghimpun harapan.
Entah kekuatan apa yang
membuatnya keras kepala untuk tak berhenti melakukan pekerjaan berat itu.
“Kalau dulu aku menjadi tulang
punggung keluarga karena kedua orangtuaku yang sudah sakit-sakitan, kini aku
mengabdikan diriku untuk masa depan anakku,” jawabnya setiap terlontar
pertanyaan dari rekannya.
“Marni, tapi kamu perempuan,
tak seharusnya kamu mengambil pekerjaan ini,” tukas laki-laki jangkung tempo
hari. Lagi-lagi Marni hanya terkekeh. Wanita itu seolah tanpa beban mengangkut
pasir-pasir menuju truk-truk pengangkut pasir. Jalan terjal nan tajam berbatu
tak menyurutkan langkahnya.
Baginya, setiap desir pasir
adalah senandung harapan. Pasir telah memberinya lembar-lembar rupiah untuk
anak semata wayangnya, yang sedang mengenyam pendidikan Dokter. Arsya…Arsya…dan
selalu Arsya yang selalu ada dalam pikirannya. Ia tak lagi memikirkan tubuhnya
yang semakin menua, dan kehilangan kejelitaannya. Seluruh hidupnya ia abdikan
untuk anaknya, Arsya. Ia bekerja terlalu keras untuk mengumpulkan rupiah yang
tak sedikit, dalam ukuran orang sepertinya—yang hidup dalam segala
keterbatasan, sejak suaminya lumpuh karena kecelakaan. Itulah alasan Arsya
mengenyam pendidikan Dokter, yang membuat Marni bangga padanya.
***
Mataku terus mancari sosok yang
selalu kunanti. Satu jam, dua jam, hingga menjelang senja, tak kulihat batang
hidungnya. Jiwaku resah tanpanya.
“Marni, dimana dirimu berada?”
kataku tertunduk lesu. Angin terus menghiburku membisik penuh ketenangan. Ahh,
itu tak bisa mengusir rasa khawatirku pada wanita itu.
“Wan, dengar-dengar Arsya anak
si Marni kemarin pulang, ya?” kata seorang laki-laki kepada rekannya. Kupasang
telinga lekat-lekat untuk mencuri pembicaraan mereka.
“Iya. Tapi kasihan, Yon,” jawab
rekannya. Aku yang sejak tadi berdiri dekat mereka, semakin serius mendengarkan
percakapan mereka.
“Loh, kasihan kenapa, Wan? Kan
anaknya sudah lulus dari pendidikan Dokter?” katanya pada Wawan. Wawan menghela
nafas sejenak kemudian tertunduk. Pita suaranya berat mengeluarkan suara.
“Arsya…dia memang sudah pulang,
tapi sudah tak bernyawa,” jawabnya lesu. “Arsya overdosis saat mengkonsumsi
obat tidur,” lanjutnya. Kemudian semua diam, membisu dengan pikiran-pikiran
yang tak mampu kuterjemahkan. Aku semakin menunduk lesu. “Marni, kini aku tahu
alasan mengapa kamu menghilang,” desahku pelan.
***
Satu bulan telah berlalu. Mataku
terus mencari sosok Marni yang tak kunjung datang. Ia bak tertelan bumi. Tak
ada simpang siur kabar tentangnya, sejak kepergian Arsya.
Senja semakin tenggelam,
merabunkan penglihatanku. Dari arah tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat
bayangan hitam menghampiriku. Aku terus menerka-nerka, hingga bayangan itu
jelas terlihat oleh mataku. “Marni!” pekikku. Ia hanya diam bersandar di
bahuku. Ingin rasanya kurengkuh tubuhnya untuk kupeluk, namun aku tak sanggup.
Aku hanya mampu melihat dan mendengar segala kesahnya.
“Anak yang selalu kubanggakan
dan kunanti kepulangannya, kini telah mengakhiri hidupnya dengan kesia-siaan.
Aku tak pernah meminta gelar dan pangkat darinya. Aku hanya ingin selalu
bersamanya ketika renta semakin menjangkiti tubuhku,” celotehnya malam itu.
Sinar bulan tak nampak malam itu, seakan membiarkan Marni menghabiskan
sisa-sisa kesedihannya bersama hening—bersamaku, hembus angin, dan mendung.
Kurasakan apa yang menjadi
kesedihan Marni. Kucoba menghibur dengan senandung bisuku.
“Marni!” teriakku kemudian. Ia
begitu kencang memegang akar-akar yang menjuntai dari dahanku. Ia tarik akar
yang paling kuat, kemudian dililitkan pada lehernya. Dengan kepasrahannya, ia
menjatuhkan tubuhnya ke bumi.
“Marni, tolong dengarkan aku,
jangan lakukan hal bodoh ini!” teriakku pada tubuh yang semakin lemas. Tajam
matanya memandangku dengan kepiluan, yang membuatku semakin teriris perih.
Getah merah terus mengalir melalui akar-akar yang terluka—oleh tarikan tangan
Marni. Kugoyangkan seluruh dahanku hingga akar-akar yang melingkar pada
lehernya terputus. Ia tersungkur dalam pelukanku. “Marni, dengarlah aku.
Terlalu bodoh dengan apa yang kau lakukan.” Sekali lagi kubisikkan di
telinganya, “Dengarlah Marni bahwa suamimu menunggumu, Arsya membutuhkan doamu,
aku pun membutuhkan senandung dzikirmu untuk membasahi jiwaku, bahkan desir
pasir membutuhkanmu untuk kau angkut ke tempat tujuan. Marni kau terlalu
berharga.”
Air mata deras mengalir di
pipinya. Kujuntai akar-akarku untuk merengkuhnya—memeluknya dalam dingin malam.
“Marni,
kami—aku, suamimu, arsya, dan desir pasir mengharapkanmu…”
***
***Cerpen ini
diikutkan dalam lomba menulis dengan tema “unconditional love” di Mazaya
Publishing pada tanggal 4 juni 2015. Cerpen ini juga sudah mengalami editing
sebelum dishare ke blog.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar