Film ini menceritakan tentang pendidikan. Sebuah cerita yang sangat
inspiratif dan sebuah perjuangan merubah mindset orang tentang
pendidikan. Alur dari cerita mudah dipahami dan bahasa yang digunakan tidak
berbelit-belit. Ini berawal dari kisah seorang Sarjana Manajemen bernama Muluk
yang susah mendapatkan pekerjaan. Sudah banyak lowongan pekerjaan yang ia
masuki, namun proposalnya ditolak. Namun, ia tetap percaya bahwa gelar
sarjananya tidaklah sia-sia. Ia tak peduli orang mengatakan bahwa pendidikan itu tidak penting.
Ia tetap berusaha membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang manajer. Muluk
bukanlah orang yang mudah menyerah, ia terus langkahkan kaki untuk mencari
pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya—yaitu seorang Manajer—sesuai jurusannya.
Syamsul adalah lulusan Sarjana Pendidikan yang juga seorang pengangguran.
Pekerjaannya setiap hari adalah berjudi. Selepas lulus, ia menjadi hilang
kepercayaan tentang pentingnya pendidikan. Ia tak percaya bahwa pendidikan itu
penting.
“Lah, saya kan pencopet, bang?” kata anak itu kemudian berlalu.
Dilain kesempatan, ketika Muluk sedang makan di warung makan, ia bertemu
lagi dengan anak itu. Dengan gaya sok orang berduit, anak itu mentraktir Muluk.
Dari situlah kemudian mereka saling bertukar cerita. Si anak itu akhirnya
mengajaknya ke markas pencopet yang selama ini ia diami bersama teman-teman dan
Bosnya. Muluk menurut saja. Disitulah muncul ide dibenak Muluk untuk menerapkan
system manajemennya. Ia menawarkan kerjasama, yaitu 10 persen hasil mencopetnya
harus diberikan kepada muluk untuk dikelola dan dikembangkan menjadi sebuah
usaha. Meski awalnya menuai ketidaksetujuan dari berbagai pihak, namun
kesepakatan akhirnya terjadi.
Muluk tidak hanya
mengajarkan prinsip manajemen saja kepada anak-anak pencopet itu, tapi juga
mendidiknya, seperti diajarinya membaca, menulis, berhitung, mengaji, dll.
Muluk tidak sendiri, ia mengajak temannya yang bernama Syamsul seorang Sarjana
Pendidikan dan teman perempuan yang seorang anak Kyai.
Perjuangan mereka
bertiga memang luar biasa dalam mendidik anak-anak pencopet itu. Kesabaran dan
ketekunan mereka telah membuahkan hasil. Anak-anak itu kini mengalami perubahan
besar setelah tersentuh pendidikan, meski pekerjaan mencopet masih dilakukan.
Ketiga orang ini—Muluk,Syamsul, dan Pipit anak pak Kyai. Dari sepuluh persen
itulah gaji mereka dan sisa uangnya ditabung ke bank.
Selang beberapa waktu
Muluk menunjukkan uang tabungan mereka yang telah terkumpul dan sebuah sepeda
motor. Sebagian hasilnya gunakan untuk modal mengasong. Muluk mengarahkan
kepada anak-anak pencopet itu untuk belajar berbisnis, yang dimulai dari
mengasong.
Dari cerita tersebut
Muluk selalu berusaha menekankan tentang pentingnya pendidikan. Bahwa hidup itu
harus meningkat dan berubah. Dengan pendidikan maka akan meninggikan derajad
manusia. Namun dari cerita tersebut ada kelemahan dalam endingnya. Muluk dan
kedua temannya akhirnya meninggalkan mereka dan kembali pada kehidupan mereka
masing-masing. Seperti Syamsul yang kembali menjadi penjudi, Pipit yang kembali
menyukai ikut kuis berhadiah, dan Muluk yang mencoba menjadi sopir. Semua itu
terjadi setelah mereka ketahuan oleh orangtua Muluk, orangtua Pipit, dan Calon
mertua Muluk bahwa gaji yang mereka terima selama ini adalah hasil mencopet.
Akhirnya mereka memilih untuk berhenti.
Walau begitu, dari
anak-anak pencopet itu ada 6 orang yang memulai hidup baru dengan mengasong.
Muluk yang melihat hal tersebut merasa bahagia. Namun, seketika bahagianya
tenggelam karena Satpol PP tiba-tiba datang dan menertibkan jalan. Semua
pengasong dan pengemis yang mengganggu jalan di tangkap. Dengan cepat kilat
Muluk berlari menghampir anak-anak pengasong mantan pencopet untuk melarika
diri, sehingga Muluklah yang ditangkap.
“Mengapa Bapak menangkap orang kecil yang hendak mencari uang halal?
Biarkan merka pergi! Harusnya bapak terusik dengan para koruptor yang
memiskinkan negeri ini!” katanya membela anak-anak pengasong tadi. Dengan
entengnya satpol PP menjawab.
“Tapi kan koruptor tidak mengganggu lalulintas.”
Dari hal diatas sangatlah
ironis sekali tentang keadilan yang terjadi di Indonesia. Hukum seperti pedang
terbalik. Tumpul diatas, tajam dibawah. Rakyat kecil ditindas tanpa rasa belas
kasih, sedangkan Para Petinggi tak tergores tajamnya hukum.
Pesan untuk pemerintah
dan Wakil Rakyat atau Petinggi Negara lainnya, dengan film “Alangkah Lucunya
Negeri ini” ini dapat membuka pintu hati untuk lebih peka dengan permasalahan
sosial yang dihadapi rakyat kecil, karena fakir miskin dan anak-anak terlantar
dipelihara oleh Negara menurut pasal 34 ayat 1 UUD 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar