Senin, 27 April 2015

Review Film"Alangkah lucunya Negeri Ini"



Film ini menceritakan tentang pendidikan. Sebuah cerita yang sangat inspiratif dan sebuah perjuangan merubah mindset orang tentang pendidikan. Alur dari cerita mudah dipahami dan bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit. Ini berawal dari kisah seorang Sarjana Manajemen bernama Muluk yang susah mendapatkan pekerjaan. Sudah banyak lowongan pekerjaan yang ia masuki, namun proposalnya ditolak. Namun, ia tetap percaya bahwa gelar sarjananya tidaklah sia-sia. Ia tak peduli orang  mengatakan bahwa pendidikan itu tidak penting. Ia tetap berusaha membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang manajer. Muluk bukanlah orang yang mudah menyerah, ia terus langkahkan kaki untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya—yaitu seorang Manajer—sesuai jurusannya.
Syamsul adalah lulusan Sarjana Pendidikan yang juga seorang pengangguran. Pekerjaannya setiap hari adalah berjudi. Selepas lulus, ia menjadi hilang kepercayaan tentang pentingnya pendidikan. Ia tak percaya bahwa pendidikan itu penting.
Suatu hari ketika dalam perjalanan mencari pekerjaan, Muluk bertemu seorang pencopet, yang masih dibawah umur. Dengan marahnya, Muluk menegur anak tersebut dan mengatakan ketersinggungannya karena ia bersusah payah mencari kerja tetapi anak tersebut dengan gampangnya mengambil uang orang lain.
“Lah, saya kan pencopet, bang?” kata anak itu kemudian berlalu.
Dilain kesempatan, ketika Muluk sedang makan di warung makan, ia bertemu lagi dengan anak itu. Dengan gaya sok orang berduit, anak itu mentraktir Muluk. Dari situlah kemudian mereka saling bertukar cerita. Si anak itu akhirnya mengajaknya ke markas pencopet yang selama ini ia diami bersama teman-teman dan Bosnya. Muluk menurut saja. Disitulah muncul ide dibenak Muluk untuk menerapkan system manajemennya. Ia menawarkan kerjasama, yaitu 10 persen hasil mencopetnya harus diberikan kepada muluk untuk dikelola dan dikembangkan menjadi sebuah usaha. Meski awalnya menuai ketidaksetujuan dari berbagai pihak, namun kesepakatan akhirnya terjadi.
            Muluk tidak hanya mengajarkan prinsip manajemen saja kepada anak-anak pencopet itu, tapi juga mendidiknya, seperti diajarinya membaca, menulis, berhitung, mengaji, dll. Muluk tidak sendiri, ia mengajak temannya yang bernama Syamsul seorang Sarjana Pendidikan dan teman perempuan yang seorang anak Kyai.
            Perjuangan mereka bertiga memang luar biasa dalam mendidik anak-anak pencopet itu. Kesabaran dan ketekunan mereka telah membuahkan hasil. Anak-anak itu kini mengalami perubahan besar setelah tersentuh pendidikan, meski pekerjaan mencopet masih dilakukan. Ketiga orang ini—Muluk,Syamsul, dan Pipit anak pak Kyai. Dari sepuluh persen itulah gaji mereka dan sisa uangnya ditabung ke bank.
            Selang beberapa waktu Muluk menunjukkan uang tabungan mereka yang telah terkumpul dan sebuah sepeda motor. Sebagian hasilnya gunakan untuk modal mengasong. Muluk mengarahkan kepada anak-anak pencopet itu untuk belajar berbisnis, yang dimulai dari mengasong.
            Dari cerita tersebut Muluk selalu berusaha menekankan tentang pentingnya pendidikan. Bahwa hidup itu harus meningkat dan berubah. Dengan pendidikan maka akan meninggikan derajad manusia. Namun dari cerita tersebut ada kelemahan dalam endingnya. Muluk dan kedua temannya akhirnya meninggalkan mereka dan kembali pada kehidupan mereka masing-masing. Seperti Syamsul yang kembali menjadi penjudi, Pipit yang kembali menyukai ikut kuis berhadiah, dan Muluk yang mencoba menjadi sopir. Semua itu terjadi setelah mereka ketahuan oleh orangtua Muluk, orangtua Pipit, dan Calon mertua Muluk bahwa gaji yang mereka terima selama ini adalah hasil mencopet. Akhirnya mereka memilih untuk berhenti.
            Walau begitu, dari anak-anak pencopet itu ada 6 orang yang memulai hidup baru dengan mengasong. Muluk yang melihat hal tersebut merasa bahagia. Namun, seketika bahagianya tenggelam karena Satpol PP tiba-tiba datang dan menertibkan jalan. Semua pengasong dan pengemis yang mengganggu jalan di tangkap. Dengan cepat kilat Muluk berlari menghampir anak-anak pengasong mantan pencopet untuk melarika diri, sehingga Muluklah yang ditangkap.
“Mengapa Bapak menangkap orang kecil yang hendak mencari uang halal? Biarkan merka pergi! Harusnya bapak terusik dengan para koruptor yang memiskinkan negeri ini!” katanya membela anak-anak pengasong tadi. Dengan entengnya satpol PP menjawab.
“Tapi kan koruptor tidak mengganggu lalulintas.”
            Dari hal diatas sangatlah ironis sekali tentang keadilan yang terjadi di Indonesia. Hukum seperti pedang terbalik. Tumpul diatas, tajam dibawah. Rakyat kecil ditindas tanpa rasa belas kasih, sedangkan Para Petinggi tak tergores tajamnya hukum.
            Pesan untuk pemerintah dan Wakil Rakyat atau Petinggi Negara lainnya, dengan film “Alangkah Lucunya Negeri ini” ini dapat membuka pintu hati untuk lebih peka dengan permasalahan sosial yang dihadapi rakyat kecil, karena fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara menurut pasal 34 ayat 1 UUD 1945.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar