Selasa, 04 Oktober 2016

Kutitip Rahasia


Wahai shubuh, dengan segala kesejukannya,
Kutitip rahasia sehat dan rezekiku,
Tutup rapat dengan embun sejukmu dari pandangan mataku
Biarlah kujalani pagi dengan rasa syukurku
Agar aku menghargai sehat dan rezeki yang kuperoleh

Wahai dhuhur, dengan sengat surya yang terang terpancar,
Kutitip rahasia keberhasilanku dan kesuksesanku
Tutup rapat dengan bakar semangat suryamu
Biarlah aku berjuang dengan segala dayaku
Agar diri merasakan lelahnya perjuangan
Agar diri tak melupakan kerasnya batu yang terus menghantam
Agar diri menghargai setiap proses keberhasilan dan kesuksesan

Wahai ‘Asar, dengan matahari keorenannya
Kutitip rahasia di penghujung waktuku
Tutup rapat dengan firman-Nya
Bahwa sungguhnya manusia dalam keadaan merugi (QS. Al-‘Asr)
Agar setiap waktu tertapak dengan rencana
Agar diri enggan berlaku aniaya
Agar langkah tak lepas dari petunjuk-Nya

Wahai Maghrib, dengan rona jingga,
Yang sepenggal naik cahayanya, kemudian tenggelam tertelan bumi
Kutitip rahasia nafas ini
Tutup rapat dengan malam yang mulai berkabut
Agar diri tak lupa bersiap dengan bekal perjalanan malam
Agar diri tak menyiakan kesebentaran kedatanganmu

Wahai Isya’, dengan kepekatan yang penuh misteri,
Kutitip rahasia pagi jika masih kutemui esok,
Tutup rapat dengan segala keindahan yang kau tawarkan melalui jendela langit
Biarkan aku beristirahat dengan sejenak
Menikmati setiap pernik yang tergantung di atas sana
Bercengkrama dengan rembulan malam
Berkejaran dengan gemintang merajut asa
Atau menghitung napas yang kian kikis

Aku titip rahasia,
Pada apapun, pada siapapun yang tahu renik kehidupanku
Seperti kutitipkan rahasia pada lima waktuku


Bantul, 5 Oktober 2016, disela waktu PPL di SMK 1 Muhammadiyah Bantul

Pada Sebaris Rindu


Kusadari tapak langkah ini kian jauh
Umur ini semakin menghabiskan jatah napas
Kian detik mendekati masa rehat dari fana
Yang entah kapan menjangkau raga

Kusadari tak banyak kebaikan yang kukumpulkan
Tak banyak tabungan dalam kotak amal untuk bekalku nanti

Aku tahu, perjalanan setelah fana adalah keabadian
Perjalanan panjang yang melelahkan jika tak cukup bekal
Perjalanan bersua dengan sintesa jiwa

Wahai pemilik jiwaku dan penggenggam semesta,
Layakkah diri berlumur dosa ini mencium bau jannah-Mu?
Mengucap salam untuk kekasih-Mu?
Bershalawat untuknya, juga berdiri pada barisannya?

Aku tahu, diri ini penuh dengan kealpaan
Penuh dengan kerikil-kerikil dosa yang mengiringi perjalananku
Dan terkumpul menjadi gunung dosa yang menjulang

Masihkah pantas meminta ampunmu yang seluas lautan, selebar langit di angkasa?
Sedangkan kesalahan demi kesalahan terus terulang
Masihkah pena malaikatmu menulis segala kebaikan dari niatku?
Sedangkan aku kadang tak sanggup melakukannya

Pada perenungan di malam yang hening,
Pada kesadaran yang tertumpah dalam sujud,
Ingatkan aku pada sebaris rindu
Rindu terbaikku pada-Mu

Ku ingin mengulang sebaris rinduku pada-Mu, dengan rindu terbaikku